Amal saleh itu tali hubunganmu dengan Allah-3


Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya (QS 27:51), begitulah Allah menggambarkan kuasanya membinasakan orang-orang yang menyembunyikan niat jahat untuk menghancurkan barisan Rasul dan pengikutnya. Ayat-ayat yang seperti itulah yang memantapkan keyakinan para ulama makrifat untuk tetap santun, walaupun kepada orang-orang yang memiliki niat dan rencana jahat. Allah sendiri yang akan menghentikan makar mereka.

Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh, dan Kami pun merencanakan makar, sedang mereka tidak menyadari. (QS 27:50).

Maka kamu wajib membersihkan niatmu sebelum menemui para ulama makrifat, agar Allah menurunkan kehendakNya dengan memilih kamu untuk dapat berjumpa dengan mereka. Jangan kamu kira mudah menemukan ulama makrifat, Nak. Mereka itu adalah kekasih-kekasih Allah yang disembunyikan olehNya di tengah-tengah manusia. Mereka seperti layaknya manusia biasa, bekerja di kantor atau berniaga maupun bertani. Mereka tidak menampakkan sesuatu yang spesifik, misalnya, berbaju khusus dengan sorban mengikat kepala. Mereka benar-benar bersahaja, walaupun ilmu ketuhanan mereka amat tinggi. Walaupun demikian, kadang-kadang mereka adalah pendengar yang baik ketika berada di tengah-tengah pengajian. Mereka tidak pernah membuat kesulitan untuk orang lain. Tidak suka berbantah-bantahan, bahkan menghindari perbantahan karena mereka sudah mengetahui kebenaran yang diajarkan oleh Allah.

Carilah dan temukanlah mereka, Anakku, agar kamu dapat belajar kepada mereka tentang amal saleh yang sejati. Amal saleh adalah tali yang menghubungkan kamu dengan Allah. Jika kamu mendapatkan amal saleh yang sejati dan kemudian mengamalkannya, maka kamu akan senantiasa terhubung dengan Allah.

Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh. (QS 103:1-3).

Jadi, orang yang rugi adalah mereka yang tidak memiliki iman dan amal saleh. Ingat ini baik-baik, Anakku. Iman dan amal saleh. Aku berharap kalian tidak terbelenggu oleh dogma yang meracuni akal sehatmu dengan pengertian bahwa iman itu sama dengan percaya. Pengertian itu keliru, Nak, karena banyak orang yang percaya kepada Allah, tetapi tidak beriman. Maka jangan heran jika makin hari makin banyak orang yang melakukan tindakan busuk dan memalukan walaupun mereka percaya pada Allah dan percaya pada hukum-hukum Allah. Mereka belum beriman, sehingga perbuatan mereka tidak menggambarkan ketinggian pangkat dan kedudukan duniawinya.

Iman itu harus diawali dengan pembuktian. Bagaimana kamu akan beriman kepada Allah jika kamu tidak membuktikannya ? Bagaimana kamu membuktikannya ? Nah, kamu harus menjawab pertanyaan itu, Anakku. Sebelum kamu mampu menjawab pertanyaan itu, maka kamu baru dalam tataran percaya. Kepercayaan seperti ini yang disebut oleh Allah kepercayaan dari tempat yang jauh.

Dan mereka berkata “Kami beriman kepada Allah” bagaimana mereka dapat mencapai dari tempat yang jauh itu ? (QS 34:52).

Tempat yang jauh juga merupakan metafora dari usaha manusia yang terlalu mengandalkan kemampuan dirinya, tidak melibatkan Allah dalam usaha mereka mencapai keimanan. Metafora tempat yang jauh ini menarik untuk kita jadikan bahan renungan. Bisa saja, tempat yang jauh ini pun merupakan metafora dari upaya manusia meraih keimanan kepada Allah hanya dengan mengandalkan kitab-kitab. Walaupun kitab-kitab itu penting, tetapi ia terbatas sebagai bahan rujukan belaka. Ada hal yang lebih penting dari sekedar bahan rujukan, yaitu bagaimana langkah nyata mencapai keimanan itu. Langkah nyata ini harus berupa amaliah, praktek atau laku apa yang harus dikerjakan oleh manusia untuk mencapai keimanan itu.

Aku akan menuliskan hal itu dalam bab tersendiri nanti. Insya Allah.

Anakku, jika Allah menyatakan bagaimana mereka dapat mencapai (keimanan) dari tempat yang jauh itu (QS 34:52), itu berarti harus ada upaya atau langkah-langkah nyata manusia untuk meraihnya dari dekat, karena memang Allah itu dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher. Maka ketahuilah, Nak, langkah-langkah nyata itulah yang disebut sebagai perjalanan rohani atau perjalanan spiritual. Kamu tidak akan dapat memperoleh cara bagaimana melakukan perjalanan rohani itu tanpa bimbingan ulama makrifat. Kamu tidak dapat mengandalkannya dari buku-buku atau kitab-kitab. Bahkan kitab yang ditulis oleh seorang ulama besar pun tidak akan pernah menceritakan praktek perjalanan rohani. Kamu harus mendapatkannya langsung dari tangan seorang ulama makrifat yang kamil mukamil.

Ini harus kamu upayakan dengan sangat serius, karena hubunganmu dengan Allah ditentukan oleh ada atau tidaknya amal saleh yang sejati pada dirimu. Kamu mungkin berfikir, sudah banyak buku-buku yang mengupas kesuksesan ulama makrifat macam Al Ghazali dengan masterpiecenya Ihya Ulumuddin, Syeikh Abu Nashr as Sarraj dengan karya besarnya Al-Luma’, Imam Qusyairi dengan Risalah Qusyairiahnya, Syeikh Abdul Qadir al-Jilani dengan Sirrur Asrornya, Syeikh Ibnu Athaillah dengan Al-Hikamnya dan ulama makrifat lain yang tidak dapat disebutkan di sini satu persatu.

Apa yang kamu pikirkan itu benar, Anakku. Mereka telah meninggalkan karya-karya besar yang menjadi penuntun bagi manusia untuk mengasah kepekaan batiniahnya. Namun demikian, sekali lagi harus saya ingatkan, buku-buku tersebut baru merupakan informasi. Tidak hanya itu, bagi masyarakat awam, buku-buku tersebut dianggap terlalu berat dan tidak mudah dikonsumsi. Bahkan ada yang menyarankan agar tidak membaca buku-buku tersebut sebelum cukup umur. Di beberapa pondok pesantren di Indonesia, Kitab Al-Hikam bahkan hanya boleh dibaca oleh santri khas, alias santri yang sudah siap secara kejiwaan untuk mengonsumsi untaian hikmah yang ditulis oleh Syaikh Ibnu Athaillah yang bahasanya sangat rumit.

Sebenarnya, itu sama sekali bukan berarti bahwa buku itu sangat wingit. Bukan begitu, Nak. Peringatan itu sebenarnya merupakan sebuah sinyal bahwa untuk mendalami ilmu tentang Allah itu harus melalui bimbingan seorang mursyid ulama makrifat yang kamil mukamil. Jika kamu menyelusuri karya-karya Al Ghazali, dalam salah satu karyanya, dia pernah menyatakan kamu tidak akan mengerti apa yang aku tulis, sebelum kalian mengetahui apa yang tidak aku tulis. Artinya, ada informasi atau ilmu yang tidak ditulis oleh Al-Ghazali yang merupakan kunci untuk memahami karya-karyanya maupun karya-karya para ulama makrifat lainnya.

Nah, sesuatu yang tidak ditulis itulah yang wajib kamu dapatkan dari ulama makrifat. Kamu mesti berjuang untuk menemukan ulama itu agar kamu dapat merendahkan diri dihadapannya. Jadilah murid yang tawadlu dan setia kepadanya, nanti kamu akan mendapat banyak manfaat darinya. Jangan membantah dia, jangan merasa pandai dihadapannya. Kamu harus ingat kisah Nabi Musa as ketika berguru kepada Nabi Khidr yang terlalu banyak bertanya. Apa yang diperintahkan oleh gurumu, kerjakanlah tanpa banyak bertanya. Apa yang dilarang olehnya, patuhilah tanpa banyak pertanyaan. Intinya : taatlah kepadanya, Nak.

Untuk mendapatkan ilmu tentang amal saleh yang sejati, kamu harus memiliki syarat tertentu. Paling tidak, kamu harus selalu bersikap jujur pada dirimu sendiri. Kalau kamu tidak tahu, jangan sok tahu. Katakan sejujurnya bahwa kamu belum tahu. Syarat lainnya, rendahkan egomu, agar kamu bisa bersikap baik kepada semua orang yang kamu jumpai dalam perjalanan pencarianmu. Jika egomu terlalu tinggi, aku khawatir kamu tidak akan bertemu dengan ulama makrifat itu, karena bisa jadi tampak lahiriah ulama itu terlalu bersahaja sehingga kamu memandang sebelah mata kepadanya. Syarat berikutnya, merdekakanlah akal dan kehendakmu. Bebaskan dirimu dari penjajahan egomu, hartamu, pangkatmu, jabatanmu maupun derajat keluargamu. Jadilah manusia tanpa atribut apa pun, kecuali atribut hamba Allah yang sedang berjalan menemukan Dia. Syarat selanjutnya, bulatkan tekadmu untuk berjihad, yaitu untuk berjuang melakukan pencarian Allah tanpa kenal menyerah. Mengalirlah bersama aliran kehidupan Allah, nanti kamu akan dipertemukan dengan ulama makrifat itu. Lalu, tuntulah ilmu darinya dan taatlah kepadanya. Jangan sekali-kali membantah dia.

Anakku, dalam berbagai ayat di dalam Al Quran kamu akan selalu menjumpai pasangan yang selalu tampil bersama, yaitu iman dan amal saleh serta salat dan zakat. Iman itu adalah keyakinan yang kuat dari sebuah pembuktian bahwa Allah selalu membuka pintu rumahNya bagi siapa pun yang ingin mengadakan perjumpaan dengan Dia, sedangkan amal saleh adalah kunci pintu rumahNya. Maka siapa yang sudah memiliki sejatinya amal saleh, artinya dia sudah memiliki kunci untuk membuka pintu rumahNya setiap waktu. Dapat juga disebutkan bahwa amal saleh adalah tali yang menghubungkan kamu dengan Allah. Kamu harus memegang tali itu kuat-kuat.

“ … barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat dan tidak akan putus ….” (QS 2:256).

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai …” (QS 3:103).

Tali yang harus kamu pegang erat-erat adalah iman dan amal saleh, Anakku. Siapa pun yang tidak memiliki iman dan amal saleh, dia adalah orang yang rugi hidupnya.

“Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh ….” (QS 103:1-3).

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh ….” (QS 95:4-6).

Perhatikanlah, Anakku, pada ayat-ayat itu jelas disebutkan bahwa orang-orang yang beriman dan beramal saleh mendapat kedudukan yang istimewa. Ketika manusia secara umum dalam kerugian, orang yang beriman dan beramal saleh, dikecualikan. Ketika manusia secara umum dikembalikan ke tempat yang paling rendah, orang yang beriman dan beramal saleh, dikecualikan. Artinya, Allah memperlakukan mereka itu berbeda dengan manusia secara umum. Hal itu menunjukkan bahwa iman dan amal saleh itu hanya berkaitan dengan Allah, atau dalam bahasa yang lebih sederhana iman dan amal saleh berada dalam wadah hablumminallah. Hanya dengan Allah. Bukan dengan selain Allah.

Amal-amal yang baik atau perbuatan baikmu menyantuni anak yatim, menolong fakir miskin, membantu pembangunan masjid, mendirikan sekolah dll yang bertujuan untuk kemaslahatan hidup manusia secara berjamaah, itu berada dalam wadah hablumminannas. Hubunganmu dengan sesama manusia. Itu semua amal yang baik atau amal thoyyibah.

Jadi, amal saleh itu tali hubunganmu dengan Allah, dan amal thoyyibah itu tali hubunganmu dengan manusia. Amal saleh itu adalah pohonnya, dan amal thoyyibah itu buahnya.

Wallohua’lam.*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s