Surga yang diperkenalkan Tuhan


Allah berfirman : “Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkanNya, kepada mereka”. (QS 47:5-6).

Ayat ini sangat menarik untuk menjadi bahan kajian dan sekaligus renungan bagi kita, karena ia berbicara tentang beberapa hal, yaitu : (1) memberi pimpinan kepada mereka ; (2) memperbaiki keadaan mereka ; (3) memasukkan mereka ke dalam surga, dan (4) surga itu telah diperkenalkanNya kepada mereka.

Saya pernah mengajak seorang teman untuk merenungkan dan mengkaji ayat ini dengan mempersilakan dia membaca ayat ini. Tidak cukup sekali dua kali, tetapi berkali-kali. Teman saya ini kemudian menggelengkan kepalanya seraya berkata, “apa sih menariknya ayat ini ? Perasaan biasa-biasa saja ?” Dan dia memandang saya yang terkekeh mendengar ucapan itu. Lalu – untuk tidak membuatnya kecil hati – saya tidak berkata apa-apa setelah itu, kecuali meminta dia banyak membaca Al Quran. Teman saya mengernyitkan keningnya, karena dia memang sudah berkali-kali katam Al Quran. Lagi pula, dia pun kuliah di sebuah perguruan tinggi bidang agama Islam. Mungkin ucapan saya dianggap aneh.

Jika saya menceritakan hal itu di sini, maka bukan maksud saya untuk merendahkan dia, melainkan sekedar untuk menyadarkan diri kita tentang alangkah tidak mudahnya memahami ayat-ayat Al Quran, jika kita masih tetap terpaku pada pola lama, yakni sekedar membaca huruf-huruf hijaiyyah sesuai dengan makhroj dan maadnya atau sesuai dengan kaidah-kaidah qiroah, tanpa pernah menyentuh substansi dari isi bacaan tersebut. Karena hal-hal semacam itu jika tidak disertai dengan upaya memerdekakan akal fikiran, ia berpotensi menjadi hijab yang makin lama makin tebal dan kuat.

Pantas kiranya jika Syekh Abu al Hasan ra, gurunya Syekh Ibnu ‘Athoillah melantunkan permohonan “Ya Allah, rampaslah dariku akal yang menghijabku dari-Mu, yang menutupiku memahami ayat-ayat-Mu dan sabda Rasul-Mu. Anugerahkanlah kepadaku akal yang Kau istimewakan dengannya para nabi-Mu, para rasul-Mu, dan para hamba-Mu yang shiddiq. Tunjukilah aku dengan cahaya-Mu seperti petunjuk yang Kau berikan kepada kalangan istimewa melalui kehendak-Mu. Luaskanlah cahaya itu untukku secara sempurna yang dengannya Engkau memberikan keistimewaan kepadaku lewat rahmat-Mu. Sesungguhnya petunjuk itu adalah petunjuk-Mu dan di tangan-Mulah segala karunia. Engkau memberikannya kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah pemilik karunia yang agung”.

Memperhatikan doa itu, kita mendapat informasi adanya ilmu yang tertancap di dalam akal, tetapi ilmu itu justru menjadi hijab yang menutupi manusia dari Allah dan menutupi manusia dari memahami ayat-ayat Allah dan sabda Rasulullah. Itulah sebabnya, Syekh Abu al Hasan memohon seperti itu.

Persoalannya adalah, ilmu apa yang menyebabkan atau berpotensi menyebabkan akal manusia terhijab dari Allah. Al Ghazali menyebut, bahwa ilmu yang dimaksud dalam Al Quran atau hadis Nabi, adalah ilmu tentang Allah. Atau dengan kata lain, ilmu makrifatullah. Maka, jika Allah menyebut dalam KitabNya “sebenarnya Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim” (QS 29:49). Yang dimaksud dengan orang-orang yang diberi ilmu adalah orang-orang yang memiliki ilmu makrifatullah. Bukan ilmu-ilmu lain.

Kembali pada ayat yang hendak kita bahas, yaitu QS 47:5-6). Dua ayat ini sebenarnya juga berbicara tentang af’al Allah, atau tindakan Allah terhadap hamba-hambaNya yang beriman dan beramal saleh. Allah terlebih dahulu berjanji “Allah tidak akan menyianyiakan amal orang-orang yang gugur pada jalan Allah” (QS 47:4). Pengertian gugur pada jalan Allah ini acapkali direduksi hanya pada orang-orang yang mati dalam peperangan. Padahal begitu banyak pemahaman tentang gugur dan jalan Allah.

Gugur memang bermakna mati. Tetapi, gugur juga bermakna tanggal atau lepas dari tangkai (bunga/daun). Nah, tanggal atau lepas itu maknanya melepaskan diri dari keterikatan tangkai. Sedangkan tangkai bermakna sesuatu yang menjadi tempat bergantung selain Allah. Ia bisa keluarga, harta, tanah, jabatan, pangkat atau hal-hal keduniawian lain. Artinya, untuk mendapatkan pertolongan Allah, maka manusia terlebih dahulu harus melepaskan diri dari keterikatan dengan selain Allah. Itu makna gugur.

Sehingga jika dalam ayat disebutkan gugur pada jalan Allah, itu bermakna orang-orang yang rela melepaskan diri dari ikatan selain Allah untuk berada di jalan Allah. Baru setelah itu, tindakan Allah akan menjamah mereka dengan : (1) memberi pimpinan kepada mereka. Artinya mereka tidak akan berjalan sendiri, melainkan ada yang memimpin. Pimpinan yang pertama adalah Allah sendiri, kemudian para Malaikat, para Rasul dan ahli waris Rasul yaitu ulama makrifat. Itulah yang dimaksud oleh Allah dalam firmanNya “barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang penunjuk jalan pun yang dapat member petunjuk kepadamu” (QS 18:17). Seorang penunjuk jalan, itulah yang dimaksud dengan pimpinan oleh Allah.

(2) Memperbaiki keadaan mereka. Keadaan yang dimaksudkan di sini adalah ahwal yang berkaitan dengan keadaan rohaniah. Yang semula selalu khawatir dan takut, diperbaiki oleh Allah menjadi manusia yang tidak pernah khawatir dan takut. Hidupnya menjadi lebih terarah dan terpola, mengikuti pola yang dibuat oleh Allah untuknya.

(3) Memasukkan mereka ke dalam surga. Phrase ini biasanya yang membuat kebanyakan manusia berfikir dan memutuskan bahwa semua balasan Allah akan diterimanya nanti setelah mati. Sorga pun baru akan ada nanti. Padahal, Allah berkali-kali dalam Al Quran menjelaskan hal ini. Lihat misalnya pada ayat : “dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan beramal saleh, bahwa bagi mereka disediakan sorga-sorga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam sorga itu mereka mengatakan ‘inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu’. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya” . (QS 2:25).

Perhatikan kalimat yang dicetak tebal, terutama pada phrase ‘inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu’. Pengertian dahulu, adalah masa sebelum ia masuk ke dalam sorga. Jika masuk sorga dipahami sesudah mati, maka bukankah itu berarti dahulu yang dimaksudkan adalah ketika masih di dunia ?

Hal itu diperkuat dengan phrase (4) sorga yang telah diperkenalkannya kepada mereka, semakin meyakinkan bahwa kondisi kehidupan sorga itu sudah diperkenalkan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, yakni dalam hidup mereka di dunia. Lagi pula dalam bagian (2) memperbaiki kehidupan mereka sudah dijelaskan bagaimana tindakan Allah terhadap mereka, yakni suatu perubahan ke arah yang lebih baik. Dari kehidupan yang selalu diliputi kegelisahan, ketakutan dan kekhawatiran, menjadi kehidupan yang lebih tenang dan bebas dari rasa takut dan khawatir. Ini adalah kondisi kehidupan sorga yang dijelaskan bahwa penghuninya senantiasa gembira, bebas dari rasa takut dan khawatir.

Sehingga meskipun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, para kekasih Allah, tidak pernah mengharapkan balasan dalam wujud kebendaan, melainkan hanya mengharap selalu bersama Allah dan memandang wajah Allah, kondisi seperti itulah yang menyebabkan mereka bahagia, gembira, tidak pernah takut maupun khawatir. Dan, itulah sorga yang sudah diperkenalkan oleh Allah kepada mereka ketika di dunia.

Dan, hanya Allah Yang Maha Mengetahui.*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s