Di sisi Allah ada bilangan


Allah berfirman : “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah duabelas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya 4 bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa” (QS 9:36).

Sebelum mengkaji dan merenungkan ayat tersebut, ada baiknya kita mencermati catatan kaki Tafsir Al Quran Departemen Agama RI yang berkaitan dengan ayat tersebut. Catatan kaki pertama mengenai 4 bulan haram, di sana disebutkan, maksudnya antara lain ialah : bulan haram adalah bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab. Catatan kedua adalah mengenai menganiaya diri, di sana disebutkan : maksudnya janganlah kamu menganiaya diri dengan mengerjakan perbuatan yang dilarang seperti melanggar kehormatan bulan itu dengan mengadakan peperangan.

Kita bukan dalam posisi memberi koreksi atau kritik terhadap catatan kaki tersebut, melainkan menjadi catatan tambahan yang memperkuat keyakinan kita, bahwa ayat-ayat Al Quran tidak dapat hanya didekati dari satu sisi saja. Pendekatan dari sisi kebahasaan dan sejarah tentu sangat berguna, tetapi melalui pendekatan itu, kita baru menyentuh aspek wacana, belum lagi menyentuh aspek perilaku, atau amaliah dan ahlak. Jika aspek wacana yang dijadikan landasan, maka ayat Al Quran berada dalam posisi debatable (layak diperdebatkan). Dalam posisi ini, sebenarnya manusia telah masuk ke wilayah terlarang, yakni memperdebatkan firman Allah SWT yang seharusnya kita sikapi dengan kepatuhan, sami’na wa atho’na.

Apalagi dalam ayat yang sedang kita renungkan itu, Allah menegaskan dzalikad-diinul qoyyim, itulah agama yang lurus. Ungkapan tersebut dimunculkan setelah Allah menegaskan “sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah duabelas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram”. Artinya, bilangan bulan yang duabelas, yang didalamnya termasuk empat bulan haram itulah yang disebut sebagai diinul-qoyyim, agama yang lurus di sisi Allah. Pengertian diinul qoyyim itu sendiri tidak melulu berarti agama yang lurus, melainkan lebih dari itu. Karena kata qoyyim juga berarti tegak, bangun, berdiri atau bangkit. Bahkan qoyyim itu pun seringkali dirujukkan kepada Allah, sehingga Dia seringkali dipanggil dengan panggilan Ya hayyu, ya qoyyum, “wahai Yang Maha Hidup, wahai Yang Maha Berdiri Tegak. Sehingga bilangan yang disebutkan dalam ayat ini adalah penjelasan Allah tentang agama yang lurus, atau agama yang mandiri di sisi Allah, yakni ketika seseorang berdiri tegak di sisiNya. Atau ketika seseorang bangkit dari tidur rohaniahnya kemudian berdiri tegak di sisi Allah. Itulah yang disebut diin, yang oleh mayoritas orang, kata diin itu dimaknai sebagai agama.

Pertanyaannya kemudian, mengapa Allah menyebutkan bilangan bulan pada sisiNya adalah duabelas bulan, di antaranya empat bulan haram ? Sebelum membicarakan hal ini ada baiknya kita memperhatikan sabda Rasulullah SAW yang menyatakan “setiap ayat memiliki sisi lahir dan batin, memiliki batasan dan petunjuk”. Maka, apa yang kita baca dalam mushaf dan terjemahannya, itu adalah sisi lahir dan batasan dari ayat tersebut, sedangkan sisi batin dan petunjuk dari ayat itu yang disebut sebagai makna hakikat. Untuk memperoleh makna hakikat memerlukan penghayatan batiniah atau rohaniah kita. Sisi lahir bersifat terbatas, dan batasannya adalah huruf-huruf, kata-kata dan makna kata-katanya yang tunduk pada kaidah bahasa, seperti gramatikal atau nahwu atau tata bahasa dan idiomatiknya. Karena ada batasan atau bersifat terbatas, maka rentan dengan perbedaan penafsiran dan pendekatan, termasuk aplikasinya dalam hidup bermasyarakat.

Oleh karena itu, jika kita berbicara tentang bilangan sebatas dari sisi lahir saja, yang akan kita temukan adalah bilangan satu, dua, tiga dan seterusnya. Yang kita peroleh pun hanya sebatas ilmu hitungan dengan berbagai rumusnya. Walaupun pengertian itu sangat berguna untuk manusia, namun kegunaannya pun terbatas hanya untuk kepentingan dunia, atau selama manusia masih berada di dunia. Tentu saja, kita tidak sekedar membutuhkan hal-hal yang seperti itu. Ada kebutuhan lain yang harus kita perjuangkan, yaitu yang berkaitan dengan kerohanian atau batiniah dan keakhiratan kita.

Maka, bilangan dari sisi batiniah adalah tentang keberadaan. Dalam ayat tersebut, disebutkan duabelas bulan. Duabelas dapat ditulis dengan 12, yakni bilangan 1 dan 2, atau perpaduan antara yang ganjil dan yang genap. Ganjil adalah kemandirian, sendiri atau tak bersekutu, atau seringkali juga disebut tunggal, yaitu Allah, yang dilambangkan dengan angka 1. Kemudian genap, yang dilambangkan dengan angka 2, itu adalah sesuatu yang berpasangan, yaitu mahluk ciptaan Allah. Jika Yang Maha Tunggal, yaitu Allah adalah Maha Mandiri, maka yang genap, yaitu mahluk, keberadaannya membutuhkan adanya pasangan sebagai kelengkapan. Jasmani membutuhkan rohani, begitu pula sebaliknya. Lelaki membutuhkan wanita, begitu pun sebaliknya. Ini suatu keharusan, karena Allah sendiri yang mendeklarasikan hal tersebut “dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (QS 51:49).

Ada tujuan yang harus dicapai dengan penciptaan mahluk yang berpasang-pasangan, yaitu supaya mahluk, khususnya manusia, la’allakum tadzakkarun, agar kalian menjadi mahluk yang pandai berzikir, yang pandai mengingat Allah.

Lalu jika dikaitkan dengan ayat bilangan bulan pada sisi Allah adalah duabelas bulan, termasuk empat bulan haram, itu pun mengandung pengajaran yang sangat penting. Bilangan 12 yang dimaksud itu bukanlah 12 yang tersebar di mana-mana, melainkan 12 yang ada di sisi Allah, yaitu 1 dan 2 yang berada di alam rohani, yakni Nurullah yang tunggal, dan Nur Muhammad serta Nur Insani yang genap/jamak, yakni kemanunggalan 1 dan 2 itu.

Bagaimana dengan empat bulan haram ? Ini adalah sarana yang menyebabkan 1 dan 2 manunggal, yaitu syariat, tarekat, hakikat dan makrifat. Pengertian empat bulan haram ini pun jika diperdalam akan menjadi sebuah pemahaman yang sempurna. Dalam empat itu (syariat, tarekat, hakikat dan makrifat) pun masing-masingnya mengandung empat pula. Sehingga di dalam syariat, terdapat syariat, tarekat, hakikat dan makrifat. Begitu pula halnya dalam tarekat, hakikat dan makrifat.

Syariat dalam syariat, atau dapat juga disebut syariatnya syariat adalah huruf, bilangan atau wacana. Tarekat dalam syariat, atau dapat juga disebut tarekatnya syariat adalah membaca. Hakikat dalam syariat, atau hakikatnya syariat adalah kitab-kitab rujukan. Makrifat dalam syariat, atau makrifatnya syariat adalah penyaksian dan pengenalan terhadap Asma’ Allah.

Syariat dalam tarekat, atau dapat juga disebut sebagai syariatnya tarekat, adalah uzlah. Tarekat dalam tarekat, atau tarekatnya tarekat adalah wirid. Hakikat dalam tarekat, atau hakikatnya tarekat adalah khuluq bi akhlaqillah. Makrifat dalam tarekat, atau makrifatnya hakikat adalah penyaksian dan pengenalan terhadap Sifat Allah.

Syariat dalam hakikat, atau dapat juga disebut syariatnya hakikat adalah amsal, symbol atau perumpamaan yang harus dibaca sebagaimana Nabi Muhammad saw diperintah untuk itu. Tarekat dalam hakikat, atau tarekatnya hakikat adalah zikir. Hakikat dalam hakikat, atau hakikatnya hakikat adalah wishal atau ketersambungan dan ketersampaian. Makriat dalam hakikat, atau makrifatnya hakikat adalah penyaksian dan pengenalan terhadap Af’al Allah.

Syariat dalam makrifat, atau dapat juga disebut syariatnya makrifat adalah tafakur. Tarekat dalam makrifat, atau tarekatnya makrifat adalah mi’raj. Hakikat dalam makrifat, atau hakikatnya makrifat adalah syahadat. Makrifat dalam makrifat, atau makrifatnya makrifat, adalah menyaksikan dan mengenal Zat Allah.

Kesempurnaan empat bulan haram itu yang menyebabkan fana’, yaitu lenyapnya segala sesuatu sehingga yang ada hanya Allah. Itulah yang disebut diinul qoyyim.

Dan, hanya Allah Yang Maha Mengetahui.*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s