Taburkanlah cinta kasih2


Sadarilah, Wahai Anakku, tema besar tindakan Allah adalah cinta kasih. Ayat dalam Kitabullah juga diawali dengan pernyataan cinta kasih yang diungkapkan dengan kata-kata bismillahirrahmanirrahim. Secara harafiah, ucapan basmalah itu sering diterjemahkan menjadi dengan nama Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih. Terjemahan itu benar dari sisi pengalihan bahasa dari Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia. Tetapi, pengertian itu saja tidak cukup, karena jika hanya sekedar mengetahui artinya, maka seseorang tidak akan beranjak dari tempatnya berpijak sekarang. Ia tetap berada di dunia anak-anak sehingga tidak mengherankan jika kita jumpai orang-orang dewasa yang bersikap kekanak-kanakan. Bahkan dalam beragama pun banyak orang yang bersikap seperti itu. Dia berada di situ-situ saja, tak pernah beranjak sedikit pun. Itulah orang yang tidak memiliki waktu.

Bismillahirrahmanirrahim dipilih sebagai ayat pertama dalam Kitabullah Al Quran sebagai rincian atas wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad saw di Gua Hira. Tentu kamu masih ingat, Anakku, dari para Guru Agama atau dari para Guru Mengaji kita betapa sulitnya Nabi Muhammad saw ketika perintah Iqra’ atau bacalah itu turun. Berkali-kali Nabi bertanya apa yang harus aku baca dan perintah itu pun diulang-ulang pula. Memang yang tertulis dalam mushaf dan informasi yang kita peroleh, tanya jawab iqra’ dan maa ana bi qori itu terjadi tiga kali. Bukan tiga kali saja, Anakku, melainkan berulang kali. Ungkapan yang diulang sampai tiga kali itu bukan menunjukkan urutan satu sampai tiga, melainkan sebuah gambaran interaksi yang intens antara Nabi Muhammad saw dengan Allah.

Setelah melalui proses interaksi yang intens dengan Allah itulah, Nabi Muhammad saw mendapatkan penjelasan agar segala sesuatu dimulai dengan selalu melibatkan Allah Yang Maha Menciptakan. “bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan” (QS 96:1).

Anakku, perhatikanlah ayat itu dengan seksama dan renungkanlah. Pelajaran pertama yang diterima adalah tentang kuasa penciptaan Allah. Tidak ada yang menciptakan sesuatu selain Allah. Atau, Allahlah satu-satunya pencipta. Artinya, apa saja yang ada pada diri kita dan pada alam semesta diciptakan oleh Allah.

Kesadaran tentang kuasa penciptaan Allah itulah yang pertama kali ditanamkan ke dalam qolbu Nabi Muhammad saw. Bagi Allah tidak ada dualitas. Tindakan Allah selalu satu dan dengan tujuan yang satu pula, yakni menebarkan cinta kasih. Di situlah letak inti perintah supaya manusia jangan menduakan Allah atau yang popular disebut jangan syirik, karena tindakan menduakan itu secara langsung menuduh Allah berada dalam dualitas. Tidak, Nak. Meskipun Allah menyatakan “dan segala sesuatu Kami jadikan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (QS 51:49), itu sama sekali bukan berarti Allah berada dalam dualitas. Perhatikanlah tujuan Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, yaitu la’allakum tazakkarun, yaitu supaya manusia pandai berzikir, supaya manusia selalu berzikir, supaya manusia selalu ingat kepada Allah.

Jika mendapat kebaikan, maka kembalikanlah kebaikan itu kepada Allah Maha Pemilik dan Maha Pelaku Kebaikan. Ketika kamu mengembalikan semua kebaikan yang melekat pada dirimu kepada Allah, itulah awal kesadaran diri sejatimu terhadap keterlibatan Allah yang telah menolongmu melakukan kebaikan-kebaikan itu. Kamu mulai menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan manusia diciptakan untuk membumikan kebaikan Allah sehingga dirasakan manfaatnya oleh manusia dan alam semesta.

Kebaikan-kebaikan Allah itulah yang disebut sebagai cinta kasih. Maka Allah disebut Ar-Rahman dan Ar-Rahim, pemilik semua kemurahan dan kasih sayang. Tidak ada zat lain yang memiliki sifat pemurah dan pengasih, selain Allah. Atau dengan kata lain, hanya Allah saja yang pemurah dan pengasih, sehingga Dia disebut Maha Pemurah dan Maha Pengasih. Jika sesuatu sudah dilekatkan kepada Allah, maka tidak ada yang tersisa bagi yang lain.

Anakku, ketika Allah menyatakan “bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan” (QS 96:1) itu menjadi tidak berarti jika tidak disertai penjelasan tentang proses penciptaan itu sendiri. Maka Allah menyusuli dengan penjelasan “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah” (QS 96:2). Bukankah itu penjelasan yang sahih bahwa selalu ada proses dalam setiap penciptaan, sehingga meskipun Allah memiliki kuasa untuk menciptakan segala sesuatu seketika itu juga dengan ungkapan kun, Allah tetap melakukannya melalui sebuah proses. Nah, dalam proses itulah terletak rahasia penciptaan yang kemudian berkembang menjadi ilmu pengetahuan modern sekarang ini.

Mengapa Allah menciptakan Adam hanya seorang diri pada awalnya ?

Kita akan membicarakannya dalam tulisan berikut. Insya Allah.

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s