Taburkanlah cinta kasih3


Mengapa Allah menciptakan Adam hanya seorang diri pada awalnya ? Pertanyaan ini nyaris tidak pernah diungkapkan karena kita sudah terlanjur menjadikan awal penciptaan Adam itu sebagai sebuah dogma, bukan sebuah pelajaran yang penting dan mahal. Manusia nyaris tidak pernah memikirkan, bukankah Allah mampu menciptakan seribu Adam bahkan lebih hanya dengan kun saja jika mau ? Nyatanya Allah hanya menciptakan seorang Adam saja.

Ketahuilah Anakku, itulah proses pendidikan Allah kepada manusia bahwa segala sesuatu bermula dari nol (manusia menyebutnya ketiadaan, orang Jawa mengatakannya awang-uwung) lalu menjadi satu dan setelah itu diikuti dengan yang lainnya sampai jumlah yang tidak berbatas. Namun demikian haruslah dimengerti Anakku, bahwa proses itu hanya terjadi untuk segala sesuatu yang diciptakan, bukan untuk pencipta atau Allah, karena Allah Sang Maha Pencipta ada dengan sendirinya. Dia sudah ada sebelum segala sesuatu ada, dan Dia akan tetap ada walaupun segala sesuatu selain Dia sudah tidak ada. Atau dalam kalimat yang popular dalam Al Quran huwal awwalu wal akhiru, Dialah Awal dan Dialah Akhir, hal yang sekaligus menunjukkan bahwa Dia adalah Sang Waktu, sehingga ketika Allah bersumpah Demi Waktu, maka sebenarnya Dia bersumpah atas diriNya sendiri.

Proses itu hanya terjadi dan ada pada ciptaan. Maka untuk segala sesuatu selain Allah, selalu ada awal dan kemudian akan berakhir. Dalam lantunan tembang puji-pujian di tanah Jawa diungkapan “biyen aku ora ana, sak iki aku ana, sesuk aku ora ana, bali menyang rahmating Allah” – dulu aku tidak ada, sekarang aku ada, dan kelak aku kembali tidak ada, pulang ke rahmatullah – dengan sangat tepat.

Manusia diajari proses ini, yaitu proses innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Dari Allah kembali ke Allah itu melalui proses. Jika prosesnya benar, dan manusia melibatkan diri dalam proses itu, maka dia akan kembali kepada Allah. Namun demikian, jika prosesnya tidak benar, karena manusia tidak melibatkan diri dalam proses itu, maka dia tidak akan kembali kepada Allah. Dia akan kembali entah kepada siapa. Maka dari itu, keberadaan manusia di dunia itulah waktu yang harus dimanfaatkan oleh manusia untuk menjalani proses tersebut, karena kembali kepada Allah itu bukan sesuatu yang otomatis.

Memang banyak orang yang menganggap bahwa jika seorang mati, maka dia pasti kembali kepada Allah. Bagaimana dia akan kembali kepada Allah jika sebelumnya dia tidak mengetahui jalan menuju Allah ? Bagaimana dia dapat kembali kepada Allah jika dia tidak tahu jalan Allah ? Bagaimana dia dapat kembali kepada Allah jika dia tidak tahu di mana rumah Allah ?

Maka, jangan mudah percaya begitu saja, Anakku. Ingat, kembali kepada Allah itu merupakan kewajiban individual tiap manusia. Kamu tidak dapat mengharapkan pertolongan dari siapa pun. Kamu harus menjalin komunikasi dengan Allah secara intens selagi kamu masih berada di dunia. Carilah jalan Allah, kemudian selusurilah jalan yang akan mengantarmu sampai ke rumah Allah yang sejati. Aku sudah menguraikan hal ini pada bab Berjalanlah Di Jalan Allah. Bacalah jika kamu masih merasa belum memahaminya.

Dalam bab ini, aku mengajak kamu untuk berahlak dengan ahlaknya Allah. Sebab, setelah kalian menemukan jalan Allah, maka tugasmu berikutnya adalah berjalan di jalan Allah. Ketika kamu berjalan di jalan Allah itulah kamu wajib menghiasi hidupmu dengan ahlak mulia, yaitu ahlak Allah. Hal yang harus menjadi perhatianmu pertama-tama adalah mengetahui tujuan penciptaan Allah atas segala sesuatu dan bagaimana semuanya itu tercipta. Artinya, kamu tidak hanya sembarang berbuat sesuatu yang menurut kamu baik, tetapi kamu harus melakukan sesuatu karena Allah menyukai. Jadi, kamu harus mengerti lebih dahulu, apa yang paling disukai oleh Allah. Jika kamu sudah tahu, maka banyak-banyaklah melakukan perbuatan yang disukai oleh Allah itu.

Perbuatan baik yang paling disukai oleh Allah adalah jika kamu mengenaliNya. Dalam salah satu hadis qudsi Allah berfirman “Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, Aku ingin dikenal, maka Aku ciptaan mahluk (manusia)”. Kemudian di dalam Al Quran Allah berfirman “dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepadaKu” (QS 51:56). Kata mengabdi kepadaKu kadang-kadang diterjemahkan menjadi menyembah Aku. Kedua terjemahan itu saling melengkapi. Tetapi, Ibnu Abbas ra menafsirkan kata illa liya’budun (kecuali untuk menyembah Aku) menjadi illa liya’rofun (kecuali untuk mengenal Aku). Penafsiran Ibnu Abbas ra itu sejalan dengan bunyi hadis qudsi yang menceritakan keinginan Allah untuk dikenal. Hal tersebut sekaligus merupakan perintah kepada manusia untuk mengenal Allah, atau untuk bermakrifat kepada Allah.

Itu adalah perbuatan baik yang paling disukai oleh Allah. Maka, Allah sangat senang jika ada seorang hamba mulai mencari jalanNya untuk bermakrifat kepadaNya. Dia akan memberikan segala sesuatu yang diperlukan oleh si hamba jika hamba itu benar-benar berusaha untuk berada di jalan makrifat. Jika kemudian dia sampai kepadaNya (para sufi menyebutnya sebagai wushul), maka Allah begitu gembira. Kegembiraan Allah itu digambarkan dalam hadis Nabi “melebihi gembiranya pemilik onta yang pagi-pagi menemukan ontanya yang hilang kembali tertambat di kandangnya”. Allah lebih gembira dari itu.

Artinya, jika kamu ingin mendapatkan kegembiraan, maka kamu harus membuat Allah gembira, yakni kembali kepadaNya menyusuri jalan Allah, yaitu makrifatullah. Kamu harus meyakini hal ini dengan keyakinan yang terus meningkat, dari keyakinan yang paling lemah, yaitu ‘ilmul yaqin, menuju ‘ainul yaqin, haqqul yaqin hingga istbatul yaqin. Jangan hanya meyakini berdasarkan ilmu saja, Nak, karena itu barulah merupakan awal. Kamu harus mendapatkan keyakinan yang lebih tinggi dengan menyaksikannya, sehingga kemu mendapatkan keyakinan yang benar atau haq. Akhirnya kamu meyakininya dengan menetapkannya dalam hati. Itulah keyakinan para Rasul, para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada dan para Salihin. Kamu dapat mencapai derajat itu jika kamu benar-benar berusaha untuk itu Anakku.

(bersambung).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s