Jadilah Manusia


Saya yakin, banyak yang mengernyitkan dahi membaca judul di atas. Bukankah aku memang manusia ? Jadi mengapa aku harus menjadi manusia ? Itu memang sebuah keniscayaan, karena acapkali kita lupa bahwa sebenarnya kita ini manusia, tetapi tidak pernah berusaha menempatkan diri sebagai manusia. Kita memilih menjadi, atau berperan menjadi, selain manusia.

Jika benar kita manusia, marilah kita uji dengan kesediaan kita menerima kitabullah sebagai panduan hidup kita. Saya khawatir, jangan-jangan kita ini termasuk ke dalam kelompok yang disebutkan oleh Allah “perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepada Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada mereka.”(QS 62:5).

Memang, dalam ayat tersebut, Allah seakan-akan mengkhususkannya untuk kaum Nabi Musa as, karena di sana disebutkan nama kitab, yaitu Taurat. Tetapi, seperti kita bicarakan dalam tulisan Berkaca pada Musa dan Harun, saya sudah menyebutkan bahwa keduanya masih tetap hidup di sisi Allah dan mendapat rezeki dariNya. Sehingga meskipun keduanya, secara fisik, sudah tidak ada lagi di alam dunia, tetapi kita tetap berkewajiban menjadikan keduanya sebagai teman yang paling baik.

Itulah sebabnya, penyebutan Taurat dalam ayat tersebut tidak secara otomatis membebaskan kita dari sebutan Allah sebagai kelompok manusia yang diperumpamakan sebagai keledai yang memikul kitab yang tebal.

Mari kita renungkan. Kendati pun keledai kuat memikul puluhan atau mungkin ratusan kitab yang tebal di atas punggungnya, tetap saja kitab itu tidak memberi manfaat kepadanya. Bahkan kitab-kitab itu menjadi beban yang memberatkan perjalanannya. Keledai tidak dapat membaca atau mengambil pelajaran dari kitab-kitab itu, walaupun misalnya, kitab itu berisi ajaran moral yang sangat tinggi. Keledai tetap saja keledai.

Nah, bukankah itu berarti, jika manusia tidak dapat memetik manfaat dari kitabullah yang diturunkan melalui para Nabi, sama saja dengan keledai ? Mereka tidak pernah membaca. Kalaupun membaca, maka mereka tidak mendapatkan manfaat, karena mereka hanya membaca huruf-huruf belaka. Mereka tidak melakukan penyelaman atas makna-makna di balik huruf-huruf itu.

Manusia jarang berfikir bahwa kitabullah itu bukan kumpulan huruf yang menjadi kalimat. Bukan. Kitabullah berisi kalamullah, atau perkataan Allah, firman Allah, sehingga sebenarnya kitabullah itu selalu berbicara dengan manusia. Bahkan tidak henti-hentinya kitabullah itu mengingatkan manusia. Sayangnya, kebanyakan manusia hanya memperlakukan kitabullah sebagai bacaan, atau kitab yang hanya dibaca tulisannya belaka. Maka, sesekali, berdialoglah dengan kitabullah supaya kita dapat menemukan mutiara yang tersimpan di sana.

Ketika kita berdialog, maka sebenarnya harus tumbuh kesediaan dari diri kita untuk mendengarkan Allah berfirman kepada kita. Lalu kita resapkan firman itu dalam hati. Jika ada yang belum dipahami, maka bertanyalah kepada Allah. Itulah yang namanya dialog. Ada komunikasi dua arah, antara kita sebagai hamba Allah, dengan Allah, Tuhan kita.

Nah, hanya manusia yang dapat melakukannya. Bukan keledai.

Wallohua’lam.*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s