Meneladani Ibrahim-2


Kisah Ibrahim mencari Tuhan, sebenarnya adalah sebuah kisah heroik seorang anak manusia melawan kejumudan dan mendobrak kemapanan yang telah membuat banyak orang merasa nyaman. Di sini, Ibrahim memberikan teladan yang sangat berharga, karena meskipun dia tidak menyatakannya secara eksplisit, seakan-akan dia ingin menyatakan kepada manusia bahwa untuk melawan kejumudan, manusia harus memiliki bekal kejujuran,egoisme kemauan untuk melakukan upaya membebaskan diri dari belenggu akal dan perjuangan tak kenal menyerah.

Mari kita lihat, bagaimana kisah pencarian Tuhan yang terdokuemntasikan secara abadi dalam Al Quran. Mula-mula “ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang, dia berkata “Inilah Tuhanku”. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata “saya tidak suka kepada yang tenggelam” (QS 6:76).

Ada beberapa simbol yang sangat menarik dalam ayat ini, yaitu malam,gelap, bintang, dan tenggelam. Siapa pun yang ingin mendapatkan pencerahan dari aat ini, dia harus membebaskan diri dari pengaruh kata-kata atau tulisan, karena kata-kata dan tulisan itu akan membatasi kemerdekaan akal dan pikiran. Manusia harus membebaskan dirinya dari simbol-simbol itu. Lalu dia harus mencari makna hakikat dari simbol-simbol itu, atau, dia harus menemukan hakikat sesuatu yang disimbolkan.

Ini sangat penting, karena jika kita hanya berhenti pada kata-kata dan kalimat, maka ayat tersebut hanya akan menjadi dongeng pengantar tidur. Itulah sebabnya, orang-orang kafir sejak dahulu kala, selalu menyatakan bahwa ayat-ayat Kitabullah hanyalah dongeng belaka, karena mereka hanya memperhatikan kata-kata dan tulisan. Mereka tidak berusaha mencari hakikat makna di balik kata-kata dan tulisan itu.

Mari kita perhatikan. Mula-mula, Allah menyebut malam. Malam di sini bukan sekedar lawan dari siang, melainkan merupakan isyarat tentang proses kedewasaan manusia secara spiritual. Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw berkata, semua manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Arti suci adalah murni, bersih, tidak terpengaruh apa pun, bebas, merdeka. Ibaratnya, ketika bayi lahir, dia seperti matahari yang baru muncul di ufuk timur. Sinarnya membangkitkan harapan dan menggembirakan semua mahluk Tuhan. Tidak mengherankan, kedatangan bayi tidak saja disambut oleh kedua orangtuanya, melainkan juga disambut oleh keluarga besarnya dan masyarakat. Ada saja ritual yang dilakukan untuk menyambut kelahiran bayi. Bahkan Nabi Muhammad saw pun melakukan ritual itu, dari mulai pemberian nama, potong rambut, akekah dan lain-lain.

Dalam pertumbuhannya, anak-anak masih membawa kejujuran dan kemurnian. Akal dan pikirannya merdeka, sehingga dia berani menanyakan apa saja kepada orang yang lebih dewasa. Dari mulai pertanyaan yang sederhana, sampai pada pertanyaan yang pelik untuk dijawab. Bahkan tidak jarang seorang anak bertanya kepada orangtuanya “Pak, Tuhan itu di mana sih ?”. Sering pertanyaan ini membuat orangtua dan orang-orang dewasa kelimpungan untuk menjawab. Padahal, itulah pertanyaan Ibrahim, sehingga sebenarnya setiap manusia hakikatnya dilahirkan sebagai Ibrahim, yaitu untuk menjadi pencari Tuhan.

Sayangnya, orangtua dan orang-orang dewasa kemudian berperan sebagai “pembunuh berdarah dingin”, yaitu dengan mematikan kemerdekaan akal dan pikiran yang murni dan suci, dengan memberangusnya dengan jawaban “tidak boleh bertanya seperti itu, percaya saja, Tuhan itu ada”. Maka sejak itu, pertanyaan penting itu perlahan-lahan lenyap dari benak manusia. Apalagi ketika di sekolah, di pesantren maupun di forum-forum pengajian, pertanyaan seperti itu tidak mendapat tempat atau porsi jawaban yang mencerahkan.

Ketika itu terjadi, ibarat matahari, ia mulai tenggelam dan hari pun berubah malam. Dan malam pun tidak serta merta menjadi gelap, melainkan secara perlahan-lahan menjadi gelap dan makin gelap. Artinya, manusia memasuki fase kegelapan rohani atau kegelapan spiritual atau fase zulumat, fase zalim, yakni fase manusia mulai kehilangan jatidirinya sebagai khalifah yang diutus oleh Tuhan menjadi pengelola alam, berubah menjadi budak penyembah berhala, baik berhala fisik seperti patung, pohon, batu dan lain-lain maupun berhala non fisik seperti ideologi, mazhab keagamaan, organisasi dll. Berhala-berhala itu lahir dari persangkaannya sendiri.

Ibrahim berada dalam situasi masyarakat yang seperti itu. Namun dia tetap berada dalam titik kesadaran diri yang penuh sebagai manusia. Dia jujur pada dirinya sendiri, bahwa dia tidak tahu Tuhan sehingga dia mencari. Dia bebas dari egonya sebagai anak pembuat patung (di masa sekarang, sinonim dengan cendekiawan atau ulama) sehingga dia merasa harus menjadi dirinya sendiri. Dia juga tetap mempertahankan kemerdekaan akal, pikiran dan kehendaknya untuk melakukan apa yang diyakininya. Dia yakin bahwa kepercayaan orangtua dan masyarakatnya itu keliru, sehingga dia berani meninggalkannya. Lalu, dia berjuang mencari dengan semangat juang pantang menyerah.

Kesadaran itulah bintang yang tampak di malam pekat. Apalagi Al Qur’an menyebutnya sebuah bintang padahal realitanya, di langit tidak hanya ada sebuah bintang, melainkan jutaan bintang. Maka, bintang adalah kesadaran diri manusia terhadap jatidirinya yang nyaris hilang ketika kegelapan akal makin pekat. Namun kesadaran itu kadang-kadang tenggelam, yakni saat manusia sibuk dengan urusan dunia atau pergi tidur. Maka Ibrahim menyatakan saya tidak suka kepada yang tenggelam. Dia selalu ingin berada dalam kesadara spiritualnya yang terus terjaga.

Maka, Ibrahim pun melanjutkan pencariannya. *****

bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s