Meneladani Ibrahim-3


Perjalanan mencari Tuhan bukanlah perjalanan yang mudah, sehingga diperlukan adalah kesabaran, keberanian dan sikap pantang menyerah. Upaya Ibrahim menemukan Tuhan, tidaklah sesingkat seperti yang ditulis dalam kitab suci maupun dalam buku-buku sejarah.

Firman Allah : “Kemudian tatkala dia bulan terbit, berkatalah Ibrahim “Inilah Tuhanku”. Tetapi ketika bulan itu terbenam, dia pun berkata “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. (QS 6:77).

Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya ketika Ibrahim melihat bintang (QS 6:76). Kendati pun tidak ada jeda, tetapi sebenarnya itu merupakan perjalanan yang lama. Ibrahim butuh waktu untuk merenung, untuk bertafakur, mengamati berbagai fenomena hidup yang ia alami maupun yang ia saksikan, sampai akhirnya Ibrahim melihat bulan. Seperti halnya bintang, maka bulan ini adalah sebuah simbol. Kemunculan bulan, membutuhkan proses dari sekedar hilal sampai bulan penuh atau purnama, membutuhkan waktu 15 hari. Setelah itu, perlahan-lahan, dalam 15 hari berikutnya bentuknya pun mulai berkurang, sampai akhirnya tak terlihat lagi. Proses itu terus berulang. Tetapi, setiap pagi, sebagaimana bintang, bulan itu pun terbenam.

Ibrahim sudah mengatakan, bahwa dia tidak suka kepada yang terbenam. Tetapi ketika ia melihat bulan terbenam, reaksi yang muncul berbeda. Dia tidak mengatakan, tidak suka dengan yang terbenam. Dia bereaksi dengan kata-kata yang sarat makna, yaitu sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberikan petunjuk, maka pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat. Ini adalah ungkapan yang sangat menarik, dan harus dicermati oleh para pencari Tuhan, karena dalam ungkapan tersebut terpendam mutiara yang amat berharga.

Mari kita perhatikan.

Mula-mula, Ibrahim mengatakan jika Tuhanku tidak memberikan petunjuk. Dalam pengertian kebahasaan, kalimat seperti itu disebut sebagai kalimat bersyarat yang diutarakan sebelum membicarakan adanya akibat. Di sini, syarat itu adalah Tuhanku memberikan petunjuk. Lalu apa akibatnya ? Maka pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat. Disebutkan dengan kata pastilah, artinya, siapa pun yang tidak mendapatkan petunjuk dari Allah SWT, maka dia termasuk orang-orang yang sesat. Orang yang sesat adalah orang yang tidak tahu jalan, sehingga dia harus mencari tahu kepada orang yang tahu jalan, atau seorang penunjuk jalan.

Maka Ibrahim pun memerlukan peranan seorang penunjuk jalan, seseorang yang dapat menunjukkan kepadanya, bagaimana dan di mana dia dapat menemukan Tuhannya. Ini pun merupakan suatu pengakuan kejujuran Ibrahim, bahwa dia tidak tahu bagaimana mendapatkan petunjuk. Satu-satunya yang dia tahu adalah, hanya Tuhan yang dapat memberikan petunjuk. Maka, jika Tuhan tidak memberikan petunjuk, dia pasti termasuk orang-orang yang sesat.

Persoalan besar dan paling penting bagi Ibrahim, dan semua manusia, adalah tanpa mengenal Tuhan, dan tanpa diawali dengan bertemu dengan Tuhan, maka dia tidak mungkin akan mendapatkan petunjuk.

Tetapi bagaimana ? Dan, Ibrahim tidak menyerah sampai di sini. Dia terus melanjutkan perjalanannya. Bertemukah dia dengan Tuhan ?***

BERSAMBUNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s