Meneladani Ibrahim-4


Sebenarnya, ketika Ibrahim berkata jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, maka pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat (QS 6:77), Ibrahim sudah menyadari, dirinya saat itu sedang berada dalam keadaan sangat membutuhkan Allah. Kondisi kejiwaan yang seperti itu, merupakan pintu awal bagi datangnya hidayah Allah. Banyak orang menyangka bahwa kedatangan hidayah itu merupakan hal yang tidak dapat diduga. Hanya Allah yang tahu. Sebenarnya pendapat seperti itu tidaklah sesuai dengan fakta, karena tiap kali Allah akan menurunkan sesuatu, selalu diawali dengan adanya tanda-tanda. Misalnya, ketika Allah akan menurunkan hujan, Dia lebih dulu mengirimkan tanda-tanda berupa awan yang gelap. Awan gelap itu bagian dari pemberitahuan Allah bahwa sebentar lagi akan turun hujan.

Begitu pula dengan datangnya hidayah. Banyak tanda-tanda yang dimunculkan oleh Allah, sebelum hidayah itu turun. Salah satu di antaranya adalah rasa gelisah. Hati mengalami kegoncangan karena apa yang selama ini diyakininya, tidak memberikan jalan keluar atau pemecahan apa pun. Ketika seseorang mulai bertanya-tanya, kenapa salatku koq tidak memberikan pengaruh signifikan dalam hidupku ? Mengapa banyak orang yang terlibat dalam penncurian uang negara koq kebanyakan adalah orang-orang yang taat beragama ? Benarkah agamaku adalah satu-satunya jalan untuk menggapai kebahagiaan hidup ? Kalau ya, kenapa aku justru merasa makin jauh dari kebahagiaan dan kedamaian ?

Banyak orang yang berusaha mengusir rasa gelisah itu dengan membaca kitab suci. Benar, ketika sedang membaca kitab suci, hati merasa damai. Tetapi ketika selesai dan kitab suci itu ditutup, kegelisahan itu datang lagi. Bahkan sebelum kitab itu diletakkan di tempatnya. Bahkan ketika kitab suci itu masih berada dalam genggaman tangannya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi.

Ada juga orang yang berusaha mengusir rasa gelisah itu dengan banyak melaksanakan salat sunah. Benar, ketika salat itu dikerjakan, ia tenang. Tetapi ketika selesai, belum lagi sajadah itu ditinggalkan, kegelisahan sudah kembali menggelayuti jiwanya. Apa yang sebenarnya terjadi ?

Sebenarnya, jiwa itu sedang merindukan asalnya, dia rindu pada kampung halamannya. Jiwa itu sangat merindukan sumber segala ketenangan, yaitu Tuhan. Itulah sebabnya, jiwa yang terkurung dalam jasad itu meronta-ronta, dan manusia menyebutnya sebagai kegelisahan. Nah, ketika jiwa itu meronta, sebenarnya dia sudah dibangunkan oleh Tuhan, Sang Asal jiwa itu. Jiwa yang sudah bangun, dia mendapatkan kembali kesadarannya. Maka, ketika dia mendapati dirinya dalam kegelapan, dia pun mencari-cari cahaya terang. Dan, celakanya, cahaya terang itu tidak dapat diperolehnya hanya dari membaca tulisan dan mendengarkan ceramah-ceramah keagamaan. Dia membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekedar tulisan. Dia membutuhkan Sang Kedamaian.

Jiwa yang masih tidur lelap, tak akan pernah merasa gelisah. Dia nyaman dalam buaian mimpi-mimpinya yang indah. Walaupun keindahan itu hanya semu belaka. Namanya juga mimpi, suatu ketika akan habis, yakni ketika yang tidur itu bangun, baik karena kemauan sendiri maupun karena dibangunkan.

Maka, Ibrahim adalah personifikasi jiwa yang bangun dari tidur lelapnya, dan ia meronta melihat kaumnya masih lelap dibuai mimpi. Jadi hakikatnya, manusia yang bangun dari mimpi-mimpi indahnya, adalah Ibrahim yang merindukan Tuhannya. Maka, dia pun memulai perjalanannya mencari.

Bilakah perjalanan itu sampai pada titik pertemuannya ?*****

BERSAMBUNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s