Meneladani Ibrahim-5


Kisah Ibrahim melihat bulan, sebenarnya merupakan simbolisasi dari munculnya kesadaran diri terhadap pentingnya pertolongan Allah. Ketika Ibrahim berkata sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberikan petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat (QS 6:77). Inilah yang disebut sebagai kesadaran terhadap kefakiran diri seorang Ibrahim. Hal ini juga sekaligus merupakan syarat mutlak sikap seorang pencari Tuhan. Dia harus lebih dulu berada dalam kondisi faqir secara spiritual. Munculnya rasa membutuhkan Tuhan, karena dirinya sama sekali tidak memiliki apa pun.

Jika kefakiran diri sudah melekat dalam diri seorang pencari Tuhan, maka ketika itulah, Tuhan menjawab dengan kasih sayang-Nya. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan” (QS 6:78).

Ayat ini sangat menarik, jika dikaitkan dengan upaya Ibrahim mencari Tuhan. Pertanyaan kita, bertemukah Ibrahim dengan Tuhan yang dicarinya ? Dari tiga ayat yang kita bicarakan, tidak ada satu ayat pun yang secara eksplisit menyatakan pertemuan Ibrahim dengan Tuhan. Ayat-ayat tersebut hanya berbicara tentang Ibrahim melihat sebuah bintang, lalu melihat bulan, dan terakhir melihat matahari. Semuanya digambarkan tenggelam. Bintang tenggelam, bulan tenggelam dan matahari pun tenggelam. Lantas, betulkan Ibrahim bertemu atau menemukan Tuhannya ?

Mari kita seberangi ungkapan kata-kata. Atau mungkin yang lebih tepat, mari kita selami makna hakikat kata-kata yang tertulis dalam Al Quran. Memang benar, tidak ada pernyataan yang eksplisit menyebutkan bertemunya Ibrahim dengan Tuhan. Tetapi ucapan-ucapannya setelah ia melihat bintang, bulan dan matahari menjadi petunjuk tentang hal tersebut. Ketika Ibrahim melihat bintang, dan bintang itu tenggelam, ia berkata aku tidak suka pada yang tenggelam. Lalu, ketika Ibrahim melihat bulan, lalu bulan itu tenggelam, Ibrahim berkata jika Tuhanku tidak memberikan petunjuk, maka pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat. Akhirnya, ketika Ibrahim melihat matahari, dan matahari itu tenggelam, Ibrahim berkata hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Bagi siapa pun yang cermat membaca dengan akal fikiran yang merdeka dari pengaruh pendapat dan pemikiran orang lain, tentu akan dapat menyimpulkan bahwa Ibrahim sudah bertemu dengan Tuhannya, hanya digambarkan dengan metafora yang sangat halus. Metafora-metafora itu adalah sebuah bintang, bulan dan matahari. Dikatakan sebuah bintang, padahal faktanya ada ribuan dan mungkin jutaan bintang bertaburan di langit. Itu berarti, bukan bintang-bintang di langit itu yang dilihat oleh Ibrahim, melainkan bintang yang ada di langit rohaniIbrahim. Di sini sebenarnya Tuhan sudah menunjukkan salah satu dari tanda-tanda-Nya, tetapi Ibrahim belum dapat menangkap atau memehami tanda-tanda itu, sehingga dia mengatakan aku tidak suka pada yang tenggelam. Disebut tenggelam, karena ketika ia kembali pada kesadaran jasadiahnya, bintang yang ada di langit rohani pun lenyap.

Lalu metafora berupa bulan itu pun mengacu pada langit rohani. Hal ini menjadi petunjuk bahwa Ibrahim melanjutkan perjalanan rohaniahnya, meninggalkan kesadaran jasadiah untuk merambah langit rohani, maka dia pun melihat bulan. Ini menunjukkan bahwa Tuhan telah menampakkan tanda-tanda-Nya yang lebih jelas. Namun, Ibrahim masih memerlukan petunjuk yang lebih jelas, sehingga dia berkata jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, sungguh pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat. Maka, bulan pun tenggelam, tatkala Ibrahim menginjakkan kakinya kembali di wilayah kesadaran jasadiah.

Metafora berikutnya adalah matahari. Sama seperti dua metafora sebelumnya, maka matahari ini pun dijumpai Ibrahim pada bentangan langit rohani yang ada di dalam dirinya. Matahari adalah sumber cahaya yang menyebabkan bintang dan bulan pun bersinar. Para ilmuwan bersepakat bahwa bintang dan bulan hanyalah memantulkan cahaya matahari. Jadi sumber seluruh cahaya adalah matahari. Maka, sumber dari segala cahaya di langit rohani adalah matahari rohani. Lalu jika dikaitkan dengan QS 24:35 Allah adalah cahaya langit dan bumi, bukankah metafora matahari itu menjadi sangat jelas maksud dan arahnya ?

Tetapi mengapa matahari pun disebut tenggelam ? Matahari, baik yang berada di langit jasmani maupun di langit rohani, sejatinya tidak pernah tenggelam. Dia tetap berada di tempatnya. Jika bumi jasmani gelap, itu bukan karena mataharinya yang tenggelam, melainkan karena buminya yang berputar seraya mengelilingi matahari, sehingga ada bagian bumi yang memunggungi matahari. Ketika itu, bagian bumi yang memunggungi matahari pun menjadi gelap.

Begitu pula halnya dengan matahari di langit rohani, Dia tidak pernah tenggelam. Dia senantiasa ada. Jika Dia tidak tampak, bukan karena Dia hilang, melainkan karena manusia yang tidak dapat menjangkau langit rohani. Hanya manusia yang telah mampu menjangkau langit rohani saja yang dapat setiap saat melihat matahari rohani di langit rohani dirinya. Manusia itu adalah Ibrahim dan orang-orang yang melestarikan perjalananya, yaitu Muhammad SAW dan para pengikut sunnahnya yang setia.

Wallohua’lam.*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s