Berguru pada Tuhan


Allah berfirman : Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS 9:115).

Ayat yang sangat menarik dan memantik inspirasi untuk berbuat sesuatu bagi siapa saja yang dapat meraih pencerahan diri melalui proses perenungan. Pada dasarnya semua ayat Allah itu menarik dan menjadi sangat inspiratif untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat. Sayangnya, tidak banyak manusia yang berhasil mendapatkannya. Bukan karena bodoh, melainkan karena mereka hanya berkutat di seputar wilayah kulit atau pembungkusnya belaka. Mereka enggan melakukan upaya lebih mendalam karena menyangka bahwa ayat-ayat itu tidak boleh ditelaah oleh “yang bukan ahlinya”. Apalagi, kitab Al Quran yang beredar di dunia ditulis dalam huruf atau aksara Arab, sehingga hanya orang-orang yang mengerti Bahasa Arab saja yang boleh mengupasnya.

Akibatnya, bagi khalayak yang tidak memahami Bahasa Arab “terpaksa” menunggu saja penjelasan dari mereka yang fasih berbahasa Arab. Jadi walaupun ayat-ayat tersebut sudah diterjemahkan ke dalam bahasa selain Bahasa Arab, tetap saja manusia enggan mencoba memberdayakan potensi akalnya untuk menelaah. Padahal, pendayagunaan akal secara maksimal merupakan syarat untuk beragama secara benar.

Sekarang, mari kita perhatikan, ayat 115 surat at Taubah yang kita kutip di atas. Ayat ini diawali dengan pernyataan tegas Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, setelah Allah memberikan petunjuk kepada mereka. Bukankah pernyataan ini sangat menarik dan sekaligus merupakan jaminan Allah kepada manusia ? Sejauh ini kita selalu beranggapan bahwa tidak ada jaminan kepastian bahwa kita ini benar-benar merupakan bagian orang yang telah diselamatkan oleh Allah, sehingga banyak di antara manusia yang selalu diliputi kekhawatiran dan ketakutan.

Pada ayat ini sudah jelas bahwa Allah tidak akan menyesatkan suatu kaum, setelah Allah memberikan petunjuk. Di sini, Allah menggunakan kata hadaa yang berakar pada kata huda artinya, petunjuk. Dalam konteks yang lain, petunjuk ini sering juga disebut hidayah. Namun acapkali manusia berkilah bahwa Allah belum memberikan hidayahnya, jika melihat ada seseorang yang dianggapnya melakukan perbuatan yang tidak senonoh, atau yang melanggar aturan dan tata krama. Padahal begitu Allah menurunkan Kitabullah, sebenarnya Dia sudah memberikan petunjuknya. Ingat saja ayat petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa (QS 2:2). Atau petunjuk bagi manusia (QS 2:185). Itu semua adalah hujjah bagi manusia bahwa Allah sudah menurunkan petunjuk-Nya. Setelah itu, Allah tidak akan menyesatkan manusia. Maka ini bermakna, jika ada manusia yang melakukan tindakan yang berlawanan dengan petunjukNya, artinya dia berbuat sesat, kesesatannya itu adalah atas kemauannya sendiri. Bukan Allah yang menyesatkan.

Namun demikian, petunjuk saja itu masih belum memadai. Ada hal lain yang diperlukan oleh manusia yaitu penjelasan, sehingga ayat tersebut dilanjutkan dengan hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi (QS 9:115). Ada ungkapan lain selain petunjuk, yaitu penjelasan dari Allah. Dalam ayat tersebut Allah menyebut dengan kata yubayyina yang diterjemahkan menjadi dijelaskannya kepada mereka.

Mari kita selisik makna dijelaskan atau penjelasan, dari kata bayyan, yubayyinu, bayyinat. Kata itu merujuk pada suatu keadaan, atau perpindahan dari suatu kondisi tidak jelas atau samar-samar, menjadi jelas, lebih jelas dan sangat jelas. Dan pelaku yang memberikan penjealasan atau yang menjelaskan umumnya dirujukkan kepada sosok guru. Tetapi dalam ayat ini (QS 9:115), yang memberikan penjelasan adalah Allah dan hanya Allah. Tidak ada sosok lain selain Allah yang memberikan penjelasan atau yang menjelaskan. Hal ini berarti, manusia harus mencari penjelasan sendiri kepada Allah, bukan kepada selain Allah. Atau dengan kata lain, manusia harus berguru kepada Allah.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, bagaimana mungkin kita berguru kepada Allah sedangkan Allah berada di tempat yang tinggi ? Pertanyaan ini wajar. Tetapi marilah kita melihat petunjuk Allah tentang keberadaan DiriNya. Dia berfirman Dan apabila hamba-hambaKu bertanya tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat (QS 2:186). Petunjuk yang lebih jelas adalah dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (QS 50:16). Ayat-ayat tersebut sekaligus menjelaskan kepada kita tentang keberadaan Allah yang semula samar-samar (karena hanya menyebutkan di tempat yang tinggi), kemudian menjadi lebih jelas (dengan ungkapan Aku dekat), lalu menjadi sangat jelas (dengan ungkapan lebih dekat dari urat leher). Itulah yang disebut penjelasan atas petunjuk (QS 2:185).

Karena Allah lebih dekat dari urat leher, maknanya, Allah selalu bersama-sama kita. Itulah sebabnya Dia memerintahkan manusia untuk mendirikan salat, dalam makna, manusia harus selalu menghubungkan dirinya dengan Allah. Salat adalah sarananya. Yang dimaksud salat adalah salat yang benar-benar mengingat dan menyembah Dzat Allah, bukan sekedar mengingat Asma-Nya atau Sifat-Nya atau Af’al-Nya. Itulah cara berkomunikasi yang paling efektif dengan Allah. Arti komunikasi adalah berdialog, melakukan tanya jawab, sehingga segala persoalan dapat dicarikan jawabannya dari Allah.

Ini yang dimaknai sebagai proses berguru kepada Allah, Tuhan kita.

Wallohua’lam.*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s