Jangan Mencampuri urusan Allah-2


Anakku, masing-masing manusia sebenarnya mempunyai peran yang sama, sesuai dengan maksud penciptaannya. Kita harus ingat, bahwa mula-mula Allah menciptakan manusia, yaitu Adam as, sebagai khalifah di bumi. Hal ini ditegaskan oleh Allah, dan ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat, “sasungguhnya Kami akan menjadikan seorang khalifah di bumi. (QS 2:30) Pernyataan Allah tentang khalifah ini mengandung makna yang sangat luas dan dalam, sehingga sangat tidak mudah untuk menyebutkan apa yang dikehendaki oleh Allah dengan pengertian khalifah ini sehingga dapat diterima secara umum oleh orang awam maupun golongan khawash.

Maka, khalifah itu maksudnya adalah pemimpin, seperti yang dikatakan oleh Nabi Muhammad saw setiap kamu adalah pemimpin. Maksud pemimpin adalah pangon, yaitu memiliki kemampuan untuk mengarahkan siapa saja yang berada di bawah pengendaliannya. Istilahnya pangon, atau dalam bahasa Indonesia disebut gembala yaitu orang yang menggembalakan binatang peliharaan atau ternak, supaya binatang-binatang tersebut tidak mengambil makanan yang bukan haknya, atau menjarah tanaman yang ada di halaman atau ladang orang lain.

Ingatlah Nak, Tuhan sudah memberitahukan kepada manusia bahwa Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak (QS 39:6). Nah, delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak itulah yang harus digembalakan olehmu, Nak. Syukurlah jika kamu sudah mengetahui delapan ekor yang berpasangan itu, tetapi jika belum, maka baiklah akan aku sampaikan kepadamu.

Ada beberapa pengertian tentang masalah ini, namun yang harus kita sadari, delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak itu, selalu ada bersama kita. Secara jasadi, delapan ekor yang berpasangan itu adalah tangan, kaki, mata, telinga, bibir, otak, paru-paru dan ginjal. Semuanya itu harus diperhatikan oleh si gembala untuk diarahkan kepada perbuatan yang diridhoi oleh Allah SWT. Delapan yang berpasangan disebut dari binatang ternak, karena binatang pun memiliki hal-hal yang serupa dengan manusia.

Oleh karena itu, di dalam Al Quran banyak sekali diceritakan tentang binatang sebagai simbolisasi jasad manusia. Binatang pun ada yang disebut binatang ternak, binatang buruan dan binatang buas. Maksud binatang ternak, adalah jasad kita sendiri, karena dia kita pelihara dengan baik, dijaga kebutuhannya, dipenuhi hak-haknya seperti makan, minum dan berpakaian, bahkan sampai melaksanakan hajat seksualnya. Itulah sebabnya, manusia harus menikah, selain untuk menyalurkan hasrat seksual dalam upaya menjaga keturunan, beranak pinak, juga untuk membentuk peradaban. Oleh karena itu, dalam perintah penyembelihan selalu dikaitkan dengan binatang ternak. Yakni, binatang yang kita miliki. Bahkan Nabi Muhammad saw memerintahkan supaya manusia menyembelih sendiri binatang ternaknya ketika berqurban.

Kemudian, binatang buruan. Maksud binatang buruan adalah jasad manusia lain. Disebut buruan, karena merekalah yang menjadi obyek yang diburu atau diajak untuk membentuk rumahtangga, persahabatan, bahkan membentuk masyarakat. Sedangkan binatang buas, adalah jasad manusia lain yang memiliki kekuasaan, kekuatan, kekayaan sehingga jika mereka dibiarkan dalam kebuasannya, bisa membahayakan manusia lain. Maka, mereka harus dikendalikan, ditundukkan untuk kemudian diajak bekerjasama, sehingga Allah membolehkan binatang buas untuk membantu manusia berburu. Tetapi mereka harus dilatih terlebih dahulu, untuk diberitahu bahwa meskipun mereka bertugas memburu, tetapi mereka dilarang untuk memakan binatang buruan. Mereka hanya boleh melumpuhkan, atau membunuh jika keadaan memaksa.

Anakku, khalifah itu adalah diri kita, atau yang lebih spesifik, khalifah adalah diri sejati kita, yakni roh atau nur insani yang bertugas menggembalakan binatang ternak (jasad kita) yang dikuasakan oleh Allah. Kita wajib merawat sesuai dengan perintah Allah Allah-lah yang menciptakan binatang ternak untuk kamu, sebagiannya untuk kamu kendarai, dan sebagiannya untuk kamu makan (QS 40:79). Artinya, Allah menjadikan jasad ini sebagai kendaraan yang dengan kendaraan itu kita dapat mencapai ke tempat-tempat tujuan yang kita inginkan. Lalu, untuk dimakan. Maksud dimakan adalah menjadi nafkah yang harus kita belanjakan. Bukankah Allah menyatakan dan menafkahkan sebagian rejeki yang Kami anugerahkan kepada mereka (QS 2:3). Hanya sebagian saja yang dinafkahkan, supaya ada manfaat besar yang kita petik.

Karena memang ada manfaat lainnya, yaitu dan manfaat-manfaat yang lain pada binatang ternak untuk kamu supaya kamu mencapai suatu keperluan yang tersimpan dalam hati dengan mengendarainya. (QS 40:80). Nah, itu artinya, kamu harus mencari tahu, apa yang dimaksud dengan mencapai suatu keperluan yang tersimpan dalam hati itu, yakni sesuatu yang bersifat batiniyah. Biasanya, sesuatu yang bersifat batiniyah, tidak akan dijelaskan di depan umum. Artinya, kamu akan mengetahuinya, jika kamu bertanya secara pribadi kepada seorang Guru Mursyid. Dia-lah yang akan memberitahukan kepadamu tentang keperluan yang tersimpan dalam hati. Maksud dalam hati adalah dalam batinmu.

Aku tahu, kamu pasti bertanya-tanya, bagaimana aku dapat bertemu dengan Guru yang Mursyid ? Begitu ?***

(BERSAMBUNG).

One response to “Jangan Mencampuri urusan Allah-2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s