Jangan Mencampuri urusan Allah-3


Anakku, pada saatnya nanti aku akan beritahukan kepadamu, mengapa kamu harus berusaha mencari dan menemukan Guru yang Mursyid dalam perjalanan hidupmu. Sekarang, aku akan menuntaskan satu hal lebih dahulu, yaitu mengingatkanmu agar kita tidak mencampuri urusan Allah. Kita harus tahu, di mana wilayah manusia, dan mana pula wilayah Allah. Sebenarnya, semua urusan itu masuk ke dalam wilayah Allah. Tetapi Allah mendelagasikan beberapa urusan kepada manusia. Nah, kita menyebut urusan yang didelegasikan itulah yang disebut sebagai wilayah manusia, alias, wilayah kita.

Mari kita perhatikan firman Allah : kamu tak lain hanyalah seorang pemberi peringatan (QS 35:23). Itulah tugas atau urusan yang didelegasikan oleh Allah kepada manusia, yaitu untuk memberikan peringatan atau untuk mengingatkan sesama manusia agar mereka tidak lupa tugas hidupnya. Kita hanya mengingatkan sesama agar mereka tidak lupa pada tugas pokok dan fungsinya sebagai khalifah. Tugas pokoknya adalah mengabdi kepada Allah. Makna mengabdi yaitu membaktikan atau mendedikasikan hidupnya untuk Allah. Sedangkan fungsinya adalah untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.

Maka Allah menugaskan kepada manusia untuk saling mengingatkan, saling menasehati dan saling berwasiat. Jika ada kata saling, maka itu artinya Allah meletakkan manusia dalam kedudukan yang sejajar dalam tugas hidup duniawinya. Tidak ada yang lebih terhormat di mata Allah antara seorang Presiden dengan rakyat jelata. Mereka setara, dan mereka harus saling melayani. Presiden melayani rakyat dan rakyat pun melayani Presiden. Allah tidak memandang status sosial manusia dalam kehidupan duniawi. Orang yang kaya dan orang yang miskin, mereka setara. Keduanya harus saling memberikan manfaat. Harta si kaya harus bermanfaat bagi si miskin, dan tenaga si miskin harus bermanfaat bagi si kaya.

Allah baru akan membedakan manusia dari ketakwaan, sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Artinya, Allah memandang sisi batiniah manusia, karena takwa itu letaknya di dalam batin.

Anakku, maka dalam percaturan hidup di dunia ini, Allah selalu mengingatkan kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka (QS 88:22). Bukankah itu suatu peringatan bagi manusia untuk menyadari posisinya dalam pergaulan hidup dunia ? Walaupun kamu seorang Presiden, Nak, kamu bukanlah orang yang berkuasa atas rakyat. Kamu bukanlah orang yang menguasai kehidupan rakyat, walaupun kamu seorang Presiden, Raja atau Pemimpin. Kamu harus ingat Nak, kamu duduk di kursi Presiden itu karena Allah yang mendudukkanmu di sana. Allah yang menggerakkan hati rakyat untuk memilihmu, sehingga kamu berada di kursi kekuasaan. Maka, kamu harus bertanggungjawab kepada Allah, kepada Tuhanmu, lalu kepada rakyat.

Hal tersebut memberikan pengertian kepada kita bahwa setiap manusia memiliki tanggungjawab yang sama. Pertama, tanggungjawab kepada Allah. Ini adalah pertanggungjawaban individual, sendiri-sendiri. Ini yang disebut sebagai fardu ain, tanggungjawab atas kewajiban individual manusia. Maka Allah mengingatkan Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu, dan takutlah suatu hari (suatu saat) ketika seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat menolong bapaknya sedikit pun (QS 31:33).

Anakku, sebenarnya hari itu atau saat itu sudah selalu datang. Hanya saja manusia menyangka bahwa hari itu atau saat itu baru akan datang nanti ketika manusia dikumpulkan di padang mahsyar. Tidak, Nak. Hari itu atau saat itu selalu datang kepada kita. Mungkin kamu tidak menyadari, ketika waktu salat tiba, kita mendengar suara adzan berkumandang. Itu adalah ajakan atau peringatan bagi manusia untuk menunaikan kewajiban individualnya, menyembah Allah. Sebelum kita mulai salat, kita masih bisa mengajak, menyeru, mengingatkan anak kita, isteri atau suami kita, tetangga kita untuk salat. Tetapi begitu takbirotul ihram tanda salat dimulai, tidak ada yang dapat menolong kita selain diri kita sendiri. Jika salat kita buruk, maka tidak ada yang dapat menolong, bahkan orang terdekat sekali pun. Jika salat kita lalai, maka kita sendiri yang harus masuk ke neraka wail, tidak ada yang dapat menolong.

Bukankah hari itu atau saat itu sudah tiba ? Bahkan berkali-kali ?

Anakku, Allah juga mengingatkan : dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, Allah mengawasi mereka, dan kamu (Muhammad) bukanlah orang yang diserahi tugas untuk mengawasi mereka (QS 42:6). Sangat jelas bukan, bahwa tugas manusia hanyalah mengingatkan, mengajak dan memberitahukan. Bukan untuk mengawasi, karena Allah lebih awas atau lebih mampu mengawasi. Maka kita tidak perlu sewot jika masih banyak orang yang menolak ajakan kita untuk bertauhid kepada Allah. Biarkan saja mereka menolak, karena penolakan mereka diawasi oleh Allah. Atau dengan kata lain, Allah lebih tahu penolakan mereka daripada kita. Bahkan Nabi Muhammad saw pun diingatkan oleh Allah, bahwa Beliau bukanlah orang yang diserahi tugas mengawasi orang-orang yang tidak mau menyembah Allah. Jika Nabi Muhammad saw saja bukan pengawas, apalagi kita.

Mungkin ada di antara kalian yang berpikir, kalian bertanggungjawab atas isteri atau suamimu, atas anak-anakmu, atas orang-orang yang kamu pimpin. Bukankah Nabi Muhammad saw mengatakan, setiap kamu adalah pemimpin ? Yang dimaksud oleh Nabi Muhammad saw adalah, setiap manusia bertanggungjawab atas dirinya sendiri, bertanggungjawab untuk memimpin dirinya sendiri. Perhatikan saja firman Allah ini : sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al Kitab untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk, maka untuk dirinya sendiri, siapa yang sesat maka sesungguhnya dia sesat untuk dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggungjawab atas perbuatan mereka (QS 39:41).

Jadi, kita tidak perlu marah, menghujat apalagi menghancurkan rumah mereka yang memilih sesat. Biarlah mereka bertanggungjawab sendiri kepada Tuhan yang senantiasa mengawasi mereka. Tugas kita hanya mengingatkan, Anakku, bukan memaksa. Maka, jangan mencampuri urusan Allah, Nak.

Wallohua’lam.*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s