Jalan, Petunjuk dan Penunjuk Jalan-3


Anakku, bukan perkara mudah untuk menemukan jalan yang ada pada diri kita, karena kita sudah terbiasa melihat sesuatu yang berada di luar diri kita. Akibatnya apa ? Kita banyak mengetahui apa-apa yang ada di luar diri kita, tetapi kita tidak tahu, apa yang ada dalam diri kita. Kita tahu cacat dan cela orang lain, tetapi kita tidak pernah tahu cacat dan cela kita, saking asyiknya memerhatikan orang lain. Perhatikan saja di sekelilingmu. Jauh lebih banyak orang yang tahu orang lain dibandingkan dengan orang yang tahu siapa dirinya. Bukankah kamu pernah mendengar seseorang berkata, si A itu orangnya tidak dapat dipercaya, dia itu tukang bohong, atau, si B kerjaannya cuma omong doang, atau juga si C itu payah, pinternya cuma perintah, giliran suruh kerja, nol besar.

Pernah kamu mendengar orang yang berbicara seperti itu, Nak ? Itu adalah bukti bahwa orang lebih banyak mengarahkan perhatian dan pandangannya kepada hal-hal yang berada di luar dirinya. Banyak orang dapat menilai secara rinci keadaan orang lain. Tetapi, tahukan dia orang macam apa dirinya ? Dia dapat mengatakan, si A tidak bisa dipercaya, alias tukang bohong. Tetapi, dapatkah dia menjamin bahwa dirinya dapat dipercaya dan jujur ? Dapat saja dia mengatakan si B itu kerjaannya cuma omong doang. Tetapi, dapatkah dia membuktikan bahwa dirinya orang yang mampu membuktikan kata-katanya dengan kerjanya yang nyata ? Bisa saja dia mengatakan, si C itu payah, pinternya cuma perintah, giliran suruh kerja, nol besar. Tetapi, bisakah dia membuktikan bahwa dia seorang yang mampu bekerja dengan hasil yang memuaskan ?

Jika dia tidak dapat mwmbuktikannya, namanya setali tiga uang alis sami mawon atau sarua keneh.

Oleh karena itu, Anakku, satu-satunya cara agar kita terhindar dari perilaku semacam itu, kenalilah dirimu. Mengapa ? Karena hakikatnya seluruh perintah Allah itu adalah untuk kita. Seluruh larangan Allah pun untuk kita. Coba saja perhatikan peliharalah dirimu, dan keluargamu dari siksa neraka. Yang pertama adalah dirimu. Setelah dirimu mampu memelihara dirimu sendiri, barulah ada kewajiban untuk memelihara keluargamu. Logikanya, mana mungkin kamu dapat memelihara keluargamu jika kamu sendiri belum mampu memelihara dirimu sendiri. Ingat, Nak, yang dapat menyelamatkan, adalah orang yang sudah selamat dari bahaya.

Itu artinya, Allah menyuruh kita untuk memperhatikan dirinya sendiri, atau, untuk lebih banyak memperhatikan dirinya sendiri, sebelum mengarahkan pandangan kita kepada orang lain. Maka, Allah melarang kita agar tidak memfitnah. Kata Allah : membuat fitnah itu lebih besar (dosanya) daripada membunuh (QS 2:217). Cobalah perhatikan, apakah mungkin kita akan memfitnah diri kita sendiri ? Tidak bukan ? Artinya, fitnah itu diarahkan kepada orang lain. Begitu juga dengan mengejek, atau memperolok-olok, pastilah pekerjaan itu diarahkan kepada orang lain. Mana ada orang yang mau mengejek dirinya sendiri atau mengolok-olok dirinya sendiri. Perhatikan saja firman Allah : Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum memperolok-olokan kaum yang lain (QS 49:11). Walaupun di situ disebutkan kaum, namun larangan itu hakikatnya untuk setiap individu.

Banyak individu yang tidak menyadari, bahwa dirinya sedang mengolok-olok orang lain, dengan mencibir, melirik dengan lirikan mengejek, bahkan ada yang dari mulutnya keluar pujian, tetapi sebenarnya dia sedang mengejek. Itu merupakan suatu peringatan keras bagi kita, untuk memperhatikan diri kita, ucapan kita bahkan memperhatikan gesture kita. Namun semuanya itu mestinya menyadarkan kita bahwa perintah dan larangan Allah dan RasulNya itu adalah perintah dan larangan untuk diriku. Ucapkanlah itu dalam hatimu, dan paterilah dia di sana sehingga kamu akan lebih banyak melihat ke dalam diri, dan mengurangi sampai seminimal mungkin, mengarahkan pandangan ke luar diri.

Perintah Allah agar berlomba-lomba berbuat kebajikan, salat, puasa, zakat, infak dan sedekah serta perbuatan-perbuatan baik lainnya, itu bukan untuk siapa-siapa, tetapi untuk diriku. Aku wajib melakukannya. Begitu juga larangan Allah agar tidak menebarkan kebencian, fitnah, mengejek, ghibah, hasad dan lain-lain, itu bukan untuk siapa-siapa, tetapi untuk diriku. Aku wajib menjaga diri untuk tidak melakukan perbuatan itu.

Itu adalah cara terbaik agar kita dapat menemukan jalan Allah yang ada pada diri kita dan melekat dengan diri kita.***

(BERSAMBUNG).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s