Jalan, Petunjuk dan Penunjuk Jalan-4


Alhamdulillahirobbil’alamin, kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk melanjutkan tugas hidup kita di dunia ini, sehingga kita masih dapat saling berpesan, Anakku. Maka, marilah kita mensyukuri nikmat Allah. Bersyukur itu tidak cukup dengan kata-kata, melainkan harus ditindaklanjuti dengan amaliah nyata. Jika kita mendapat karunia rejeki, kita mengucapkan alhamdulillahirobbil’alamin. Itu baru ucapan syukur. Nah, tindakan bersyukur adalah : menafkahkan sebagian rejeki itu di jalan Allah. Maka, lengkaplah cara kita bersyukur.

Sekarang mari kita bersyukur kepada Allah, karena kita sudah memperoleh pencerahan dengan mengetahui bahwa yang dimaksud dengan jalan bukanlah jalan yang biasa kita lalui ketika kita akan bekerja atau bepergian, tetapi adalah jalan yang ada pada diri kita. Nah, tugas kita sekarang adalah menemukan jalan itu.

Maka, marilah kita memperhatikan diri kita, Anakku. Mestinya kamu sudah tahu, dalam diri kita ada jantung yang terus berdetak. Konon menurut para ahli, jantung itu berdetak untuk memompa darah yang kemudian mengalir kesekujur tubuh melalui pembuluh darah, seperti air yang mengalir di sungai. Maka, pembuluh itu dapat kita sebut sebagai jalan darah. Jalan ini harus dijaga jangan sampai tersumbat, supaya darah dapat mengalir lancar. Namun yang terpenting adalah menjaga supaya darah itu selalu baik, yaitu dengan cara makan makanan yang halal lagi baik. Itulah sebabnya kita diperintah untuk mencar rejeki yang halalan thoyyiban, halal lagi baik. Halal saja tidak cukup, maka harus ditambah dengan baik. Halal itu sifatnya, dan baik itu materinya.

Lalu, kalau kita lebih memperhatikan diri kita, maka tentunya harus kita sadari, apa yang menyebabkan kita dapat berkomunikasi dengan sesama, yaitu karena Allah menganugerahkan mulut atau lisan. Jika pembuluh kita sebut sebagai jalan darah, maka lisan adalah jalan kata-kata. Jalan ini pun harus dijaga agar selalu bersih, tidak tercemar dan kotor, baik materinya, yaitu mulut, bibir, lidah, gigi dan seluruh rongga mulut. Mulut adalah gerbang pertama yang harus dijaga, karena dari tempat itulah masuk makanan, mengunyahnya dan kemudian menelan masuk ke dalam perut. Dari mulut juga keluar kata-kata yang baik maupun yang buruk. Jika kata-kata baik yang keluar, maka si pengucap akan disebut sebagai orang yang baik dan sopan. Jika yang keluar adalah kata-kata yang buruk atau jorok, maka si pengucap pun akan disebut buruk atau jorok. Sampai-sampai ada pepatah, mulutmu harimaumu, maksudnya supaya manusia menjaga mulut, karena ia dapat menerkam dirinya.

Kamudian, ada telinga, ada mata, ada hidung dll, itu pun jalan untuk mendengar, untuk melihat dan untuk benafas. Semua jalan itu harus dijaga dengan sebaik-baiknya agar selamatlah diri kita, Anakku.

Aku tahu, Nak, kamu pasti bertanya, siapakah yang harus menjaga jalan-jalan itu ? Jangan melihat ke luar, Nak, lihatlah ke dalam dirimu. Bukan orang lain yang harus menjaga jalan itu, tetapi diri kita sendirilah yang harus menjaganya. Kalau disebut diri kita sendiri, maka apakah kamu sudah tahu siapa dirimu itu ? Jika belum tahu siapa dirimu, maka aku minta, jangan hanya memandang jasadmu Nak. Lewati jasad itu, karena manusia itu terdiri dari dua unsur, yaitu jasmani dan rohani. Jasmani atau jasad itu materi, dan rohani itu zat dan sifat. Materi itu kendaraan sedangkan zat dan zifat itu pengendaranya yang harus menjaga agar kendaraan itu tetap berada di jalan yang benar, taat kepada pengendara sehingga tidak melanggar rambu-rambu.

Lihat saja di jalan raya. Jika ada mobil (kendaraan) yang melanggar rambu-rambu, maka bukan mobilnya yang dihukum, melainkan pengendaranya atau sopirnya yang kena hukuman. Itu juga bermakna, bahwa di akhirat nanti, bukan jasad yang dipanggang api neraka, melainkan roh itulah yang merasakan panasnya neraka.

Maka Allah menyatakan dan Kami telah menunjukkan kepadamu dua jalan (QS 90:10). Tentu yang dimaksud adalah jalan jasmani atau jalan yang lahiriah, dan jalan rohani atau jalan batiniah. Jalan lahiriah mudah untuk ditemukan, seperti baru saja kita contohkan. Tetapi jalan batiniah atau jalan rohani, sulit sekali menemukannya. Tetapi mengapa Allah memerintahkan maka sebaiknya manusia mencari jalan yang mendaki lagi sulit/sukar (QS 90:11) ?

Bukankah itu berarti, di jalan yang mendaki lagi sukar itulah manusia akan menemukan kebenaran sejati ?

Sabar, Anakku, kita akan membicarakannya nanti.*****

(BERSAMBUNG)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s