Jalan, Petunjuk dan Penunjuk Jalan-5


Anakku, apa kabar hari ini ? Alhamdulillah, kesehatan dan keberkahan Allah selalu bersama kita. Meskipun cuaca akhir-akhir ini tidak menentu, mudah-mudahan kita selalu konsisten dalam iman dan keyakinan kita kepada Allah. Dan, kita masih akan melanjutkan pembicaraan kita yang kemarin terputus, berkaitan dengan firman Allah : dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, maka sebaiknya ia memilih jalan yang mendaki lagi sukar (QS 90:10-11). Kemarin kamu bertanya-tanya, mengapa Allah justru memerintahkan supaya manusia mencari jalan yang mendaki lagi sukar ? Umumnya manusia selalu berpikir bahwa jalan yang baik itu mudah dan datar-datar saja. Bukankah Allah juga menyebut dalam firmanNya supaya manusia memohon kepadaNya ditunjukkan jalan yang lurus ? Nah, semakin lengkaplah rasa penasaran kita kan ?

Begini, Nak, dalam bertuhan memang sebaiknya manusia bersikap pasrah dan tawakal. Sayangnya, kata pasrah sekarang ini dipelintir pengertiannya menjadi menyerah karena tak berdaya. Padahal, pengertian pasrah adalah tunduk patuh kepada Tuhan, yang dalam bahasa agama disebut sebagai Islam. Maka dari itu, dalam bertuhan kita harus pasrah atau tunduk patuh kepada Tuhan, lalu tawakal kepada Tuhan. Bahkan kita sebaiknya tidak berusaha untuk memahami dan menafsiri sesuatu dengan akal pikiran sendiri. Misalnya, mengartikan jalan lurus sebagaimana jalan yang dilalui kendaraan. Bahkan ada yang menyebutnya jalan tol. Itu penafsiran akal manusia. Bukankah semestinya kita mengikuti saja apa yang dikehendaki oleh Allah ?

Maka, jika kita ingin tahu apa yang dimaksud dengan jalan lurus, semestinya kita mencari jawabannya juga di dalam Al Quran. Bukankah ada keharusan untuk menafsirkan Al Quran dengan Al Quran ? Maknanya, jika kita sedang berbicara tentang jalan, maka kita pun harus mendapatkan petunjuknya dari Al Quran pula ? Kita sudah mengerti, jalan yang dibuat oleh Allah dan yang dimaksudkan oleh Allah bukanlah jalan yang dilalui oleh kendaraan, sehingga jalan lurus pun tidak semestinya disepadankan dengan jalan tol. Karena jalan yang dilalui oleh kendaraan memang bukan dibuat oleh Allah, melainkan dibuat oleh manusia, sehingga bukan jalan itu yang dimaksud. Kita sudah tahu, jalan yang dibuat oleh Allah adalah jalan yang ada di dalam diri kita. Jalan itulah yang harus diselusuri.

Jika Allah menyebutkan dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tentu yang dimaksudkan adalah jalan yang ada di dalam diri kita juga. Kita tentu tidak perlu mencari-cari apa yang dimaksud dengan dua jalan itu, karena Allah sendiri sudah menjelaskan, maka sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Meskipun yang disebutkannya hanya satu, yaitu jalan yang mendaki lagi sukar, tetapi sebenarnya Allah menerangkan dua jalan, karena yang satu jalan lagi adalah jalan yang datar dan mudah. Tidak usah diragukan lagi, karena Allah menciptakan segala sesuatu itu berpasangan. Jika ada mendaki tentu ada yang turun atau datar. Jika ada yang sukar maka tentu ada yang mudah. Dan Allah memerintahkan sebaiknya tempuhlah jalan yang mendaki lagi sukar.

Kata sebaiknya kedengarannya bukan sebuah perintah yang keras dan harus, artinya, boleh menempuh jalan itu dan boleh juga tidak. Pengertian seperti itu tidak salah, Anakku. Tetapi cobalah renungkan dengan hati yang jernih, bukankah pilihan itu justru sesuatu yang tidak mudah ? Hanya ada satu yang benar. Jika pilihannya hanya ada dua, maka yang satu pasti salah. Nah, yang haq (benar) itu dari Tuhanmu, maka janganlah kamu ragu-ragu. Dalam urusan memilih dua jalan itu, karena Allah sudah menyebut sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar, maka yakinlah bahwa di situlah letak kebenaran yang ditunjukkan oleh Allah. Kebenaran dari Allah, jangan kamu ragu-ragu.

Jadi pilihlah untuk menjadi penempuh jalan mendaki dan sukar itu, Nak. Persoalannya adalah, apa dan di mana jalan yang mendaki lagi sukar itu ? Allah sudah menyediakan jawabannya yaitu melepaskan budak dari perbudakan, memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim ada hubungan kerabat, dan orang miskin yang sangat fakir (QS 90:13-16).

Bagaimana penjelasannya ? ***

(BERSAMBUNG)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s