AKU INI SIAPA ?


Allah berfirman : Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, (QS 2:21).

Ayat ini, sebagaimana ayat-ayat yang lain, sungguh sederhana. Bahkan amat sederhana, sehingga manusia acapkali tidak memerhatikan isi kandungan pesannya. Jadi, sebenarnya ini adalah pelajaran tentang kepedulian dan kecerdasan manusia dalam menyikapi berbagai macam hal yang dihadapinya. Manusia cenderung meninggalkan yang rumit dan sulit, tetapi manusia pun cenderung mengabaikan yang sederhana dan mudah. Dua sikap inilah yang akan menyebabkan kerugian besar bagi manusia. Padahal persoalannya hanya terletak pada kemampuan dan kemauan.

Mengenai kemampuan, pada awalnya merupakan pemberian Tuhan yang sangat besar sebagai potensi untuk menghadapi tantangan hidup di belantara dunia. Kemampuan fisik manusia, misalnya, azalinya disesuaikan dengan situasi dan kondisi tantangan dunia fisik. Ketika alam masih ganas, penghuninya kebanyakan berupa binatang dengan fisik yang besar dan kuat, maka ketika itu, kemampuan fisik manusia pun disesuaikan dengan kondisi alam di sekitarnya. Walaupun secara fisik manusia tetap “kalah” dari situasi dan kondisi fisik alam sekitarnya, manusia tetap dapat survive karena Tuhan mengaruniakan akal.
Kelebihan akal itulah yang menyebabkan manusia mampu menundukkan berbagai tantangan yang – jika dinalar dengan situasi masa kini – barangkali akan sulit dibayangkan, karena manusia hanya melihat kondisi kekinian fisiknya yang cenderung kecil dan lemah dibandingkan dengan kekuatan fisik hewan, misalnya.

Kemampuan manusia yang diberikan Tuhan, kemudian disebut potensi, masih belum berarti apa-apa, jika tidak ada kemauan untuk menggali dan memperkaya potensi itu. Pada sisi inilah letaknya wilayah kekuasaan yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk mengeksplore potensinya sehingga ia mendapatkan manfaat dan manusia lain serta mahluk lainnya pun mendapatkannya juga. Atau sebaliknya, potensi itu pun dapat menjadi sumber malapetaka bagi dirinya, manusia lain dan mahluk-mahluk Tuhan lainnya. Itulah sebabnya manusia disebut sebagai mahluk yang berada di tengah dualitas, positif dan negatif, karena manusia dapat menjadikan potensinya itu dengan sangat sistematis. Tidak lagi perlu menggunakan tenaga fisiknya, melainkan melalui rekayasa kemampuan akalnya.
Maka, melalui ayat ini, Allah (1) mengajak manusia untuk memikirkan dan merenungkan dirinya sendiri. Diberitahukannya tentang asal muasalnya. Maka, siapa pun yang membaca ayat ini dengan hati dan jiwa yang bersih, dia akan segera tahu, bahwa dirinya dan manusia lain di zaman dahulu, sekarang, maupun yang akan datang, adalah produk ciptaan Tuhan. Desain produk fisiknya sama, tetapi ukurannya berbeda karena disesuaikan dengan kondisi tantangan yang harus dihadapi. Itulah sebabnya, ilmu pengetahuan seluruhnya berkaitan dengan persoalan manusia sebagai bukti bahwa sosok manusia fisik memberikan inspirasi yang besar bagi manusia sendiri untuk melakukan eksplorasi sampai menemukan rumus, teori dan dalil yang menyebabkan kualitas hidup duniawinya terus menerus mengalami peningkatan, walaupun sosok jasmaniahnya atau fisiknya cenderung menjadi makin ramping. Dengan sosok fisik yang ramping itu ternyata manusia dapat terus bertahan.
Yang tidak berubah adalah roh yang ditiupkan olehNya. Materi roh ini adalah cahaya karena berasal dari Cahaya di atas Cahaya atau Nuurun ‘ala Nuurin sebagaimana dinyatakan sendiri oleh Allah bahwa :

Allah cahaya langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS 24:35).

Itulah awal mula manusia roh, yang dalam Al Quran disebut insan, ketika Nuurun ‘ala Nuurin atau cahaya di atas cahaya itu meniupkan cahayaNya ke dalam jasad manusia, sehingga kemudian dia hidup karena diberi hidup oleh Yang Maha Hidup. Inilah salah satu sifat Allah dari sifat duapuluh yang diamanatkan kepada manusia. Dan dalam ayat yang lain, inilah yang disebut sebagai : innalillaahi atau sesungguhnya aku berasal dari Allah (QS 2:156), yang jika dikaitkan dengan QS 24:35 ini maka makna pernyataannya itu adalah sesungguhnya aku berasal dari cahaya di atas cahaya. Maka roh itu juga sering disebut sebagai nurul insan atau nur insani. Maka kepada cahaya di atas cahaya itulah nur isani itu harus kembali, wa inna ilaihi roji’un.(QS 2:156).
Dengan penjelasan ini marilah kita menyadari perintah yang wajib dilaksanakan oleh manusia yaitu sembahlah Tuhanmu (QS 2:21), harus melalui proses memikirkan dan merenungkan dirinya sendiri. Bukan semata-mata jasadnya atau fisiknya, melainkan yang terutama adalah jati dirinya, yaitu roh yang materinya berupa cahaya dan berasal dari cahaya di atas cahaya. Proses awalnya adalah mengetahui masalah ini, namun itu belum cukup, karena setelah itu manusia harus menyembah Tuhan yang telah menciptakannya dan menciptakan manusia sebelumnya.
Itulah sebabnya, kemudian Allah menurunkan perintah berikutnya, yaitu : sembahlah Tuhanmu, (QS 2:21) Di sini (2) Allah, tidak menyebut nama DiriNya, melainkan menyebut ZatNya dengan kata Rabb atau Ar-Rabb yang merujuk pada ketunggalan ZatNya. Menarik juga, karena Dia menggunakan sebutan Ar-Rabb yaitu Zat-Nya tanpa atribut Asma’ maupun SifatNya untuk memanggil an-Naas yaitu sosok manusia tanpa menyebut atributnya, apakah dia kafir, mukmin, muslim dstnya. Sebenarnya, dengan cara ini, Allah sedang menunjukkan keTunggalan ZatNya dan ketunggalan umatNya yang acapkali disebut dalam Al Qur’an sebagai umatan wahidah alias umat yang satu, yaitu umat manusia. Lalu, jika ditarik kepada inidividu manusianya, maka kewajiban menyembah Ar-Rabb Yang Maha Tunggal adalah mutlak sehingga menjadi kewajiban pribadi atau fardhu ain bukan fardhu kifayah. Bahwa untuk menyembah Tuhan, manusia harus lebih dahulu mengenal dirinya, sehingga ia akan mengenal Tuhannya. Dalam jargon tasawuf inilah yang disebut sebagai man ‘arofa nafsahu faqod ‘arrofa robbahu.

Pada ZatNya yang tunggal itulah manusia diperintah untuk berlindung dengan perintahNya : Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. (QS 114:1). Lagi-lagi di sini Allah menyubut KeTunggalan ZatNya, yaitu Ar-Rabb yang memerintahkan ketunggalan umatNya yaitu An-Naas. Sehingga layak kiranya jika kita bertanya, hal maha penting apa yang disimpan rapih oleh Tuhan dalam ayat-ayatNya yang tertulis dalam KitabNya ? Hal maha penting apa yang disimpan rapih olehNya di jagad raya ini dan pad diri manusia ? Maka dengan sangat hati-hati kami katakan, inilah yang disebut Tauhid. Semua yang maujud, manunggal dalam wujud Tuhan sehingga tidak ada sesuatu selain Tuhan atau La ilaa ha illallaah.

Hal lain yang menarik dari ayat yang sedang kita bicarakan ini (QS 2:21) ini adalah (3) Allah berbicara tentang manusia secara umum, tidak disebut tentang bangsa, suku, ras, bahkan tidak pula berbicara tentang agamanya. Ini bermakna bahwa kewajiban menyembah Tuhan Yang Maha Tunggal itu merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap manusia, apa pun bangsanya, sukunya, rasnya, bahasanya dan apa pun agamanya. Dari sinilah muncul pemahaman bahwa ummatan wahidah atau umat yang satu itu sebagai agama yang satu. Lalu, karena di dunia ini dikenal banyak nama agama, maka masing-masing penganut nama-nama agama itu membuat klaim bahwa agamanyalah yang paling benar. Pemahaman ini memicu munculnya fanatisme dan picikisme bahkan sampai pada radikalisme.
Maka manusia diingatkan : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS 51:56), atau dengan kata lain : TujuanKu menciptakan jin dan manusia adalah agar mereka menyembah Aku.
Di sini Allah menyebut al-jin dan al-insan yang kemudian diterjemahkan menjadi jin dan manusia, tanpa merenungkan lagi secara lebih mendalam. Padahal yang disebut al-jin dan al-insan itu sejatinya adalah mahluk rohani yang kedua-duanya berasal dari nuurun ‘ala nuurin. Kedua-duanya adalah cahaya dalam penampilan yang berbeda. Al Insan diberi pakaian jasad yang terbuat dari tanah atau saripati tanah sehingga jasadnya disebut sebagai al-basyar, sedangkan al-Jin diinformasikan dalam Kitabullah : dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. (QS 15:27).

Apakah itu berarti jasad al-jin berasal dari api ? Itu bukan termasuk hal yang kita kaji dalam tulisan ini, karena kita hendak membahas siapa sejatinya aku (manusia) ini. Kita kutipkan ayat QS 51:56, bukan untuk membandingkan al-jin dengan al-insan, tetapi sebagai satu penegasan bahwa keduanya adalah mahluk rohani yang diciptakan oleh Tuhan untuk menyembah Tuhan. Makna dari ayat ini adalah : menyembah Tuhan adalah kewajiban roh insan dan roh jin. Roh Insan yang disebut juga nur insani menyembah nuurun ‘ala nuurin atau Nuurullah. Begitu pula halnya dengan al-jin. Maka penyembahan ini disebut sebagai penyembahan roh kepada Sang Maha Roh. Tempat penyembahannya adalah di Baitullah tempat Dia bersemayam. Itulah yang dilakukan oleh Nabi Besar Muhammad saw ketika Mi’raj, Isa al Masih Putera Maryam ketika Naik ke Langit, Nabi Ibrahim as ketika dibakar api, Nabi Ismail as ketika disembelih, Nabi Musa as ketika disambar petir dstnya. Semua Nabi melakukannya dan diceritakan dalam Kitabullah dengan kias yang berbeda-beda.
Maka, menyembah Tuhan sejatinya merupakan garis akhir dari sebuah perjalanan rohani yang berawal dari adanya informasi tentang Tuhan yang telah menciptakan kamu dan manusia sebelum kamu (QS 2:21). Karena baru informasi, maka ia harus dilanjutkan dengan upaya memperkaya lebih banyak informasi sampai diperoleh kejelasan dan kepastian bahwa Tuhan memang Maha Tunggal, hanya ada Satu Tuhan. Ini perlu ditegaskan karena masih ada saja pemeluk agama yang menyatakan bahwa pemeluk agama X itu menyembah Tuhan yang berbeda dengan pemeluk agama Y. Pertanyaan kita : jadi ada Tuhan lebih dari satu ?
Siapa pun yang menyatakan bahwa Tuhan yang disembah oleh pemeluk agama lain itu berbeda dengan Tuhan yang disembahnya, sejatinya orang tersebut masih terhijab oleh nama-nama Tuhan yang disematkan kepada Zat Tuhan menurut bahasanya masing-masing. Orang seperti ini merupakan mayoritas di muka bumi.
Perhatikan ayat ini : kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS 12:40).

Ayat yang kita petik itu dapat menjadi rancu, karena sejatinya ayat ini berbicara tentang orang-orang yang baru mampu menyembah nama Tuhan, yang dibuat oleh nenek moyang mereka maupun mereka sendiri. Namun dengan kemunculan kata Allah untuk menerjemahkan kata min duunihi menjadi selain Allah, menyebabkan terjemahan itu terdistorsi, karena ungkapan min duunihi, menurut pendapat kami, lebih mengena jika dialihbahasakan menjadi selain Dia. Lalu siapa yang dimaksud dengan Dia ? Jawabannya adalah : Tuhan atau Ar-Rabb, yaitu ZatNya Yang Maha Tunggal, seperti yang terdapat pada QS 2:21 dan ayat-ayat lain yang telah sebahagiannya telah kita sebutkan.
Jadi, nama-nama Tuhan yang banyak disebut – apapun sebutannya – maka itu semua adalah buatan nenek moyang. Dan yang dimaksud dengan nenek moyang adalah para pendahulu kita yang hidup di masa sekarang. Ia bisa ayah ibu kita, kakek nenek kita, buyut kita dan seterusnya sampai ke atas. Maka dari itu, jika manusia hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh nenek moyang mereka, disebut sebagai penganut agama nenek moyang.
Itulah sebabnya, Allah menyatakan ancamannya : Dia berkata: “Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu”. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), Sesungguhnya aku juga Termasuk orang yamg menunggu bersama kamu”. (QS 7:71).
Ini bermakna, bahwa orang yang belum mengenal Tuhan, baru sebatas menyembah dan mengingat nama Tuhan, bukan Tuhan. Perhatikan ungkapan “Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu”. Di sana disebut dengan kata min robbakum, sekali lagi adalah keharusan untuk menyembah Zat Tuhan. Sehingga hal ini dapat menjadi dalil bahwa penyembahan yang benar kepada Tuhan adalah menyembah ZatNya atau WujudNya yang berupa nuurun ‘ala nuurin. Sosok itu pulalah yang wajib diingat ketika orang berdiri salat, bukan NamaNya. Sosok itu hanya akan muncul pada ingatan seorang hamba yang sudah menyaksikan keberadaanNya, yaitu sosok yang selalu disembah ketika ia masuk ke dalam baitullah.

Untuk mencapai hal tersebut, maka (4) Penyembahan manusia kepada Tuhan yang diawali dengan penyaksian atau syahadat dan makrifat kepadaNya itulah yang akan menyebabkan manusia mampu mencapai derajat ketaqwaan.
Ihwal syahadat ini pun kemudian menjadi rancu, menyusuli kerancuan tentang nama-nama agama yang banyak dijumpai di muka bumi ini. Apakah hanya orang Islam saja, atau orang yang akan masuk Islam saja, yang wajib bersyahadat ? Apakah umat agama lain tidak ada kewajiban untuk bersyahadat ? Kalau tidak, mengapa ? Kalau iya, bagaimana syahadat mereka itu ?
Ini sebuah kajian yang menarik, yang insya Allah akan kita bahas pada bagian lainnya nanti. *****

6 responses to “AKU INI SIAPA ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s