MEMAHAMI JALAN ALLAH


Banyak sekali sebutan untuk Jalan Allah. Salah satu di antaranya disebutkan dalam QS 1 Al Fatihah ayat 6 : Tunjukilah kami jalan yang lurus (QS 1:6). Ayat ini, saya sebut sebagai ayat kunci yang menyebabkan surat ini disebut sebagai ummul kitab, karena seluruh isi Al Quran merupakan petunjuk bagi manusia untuk menemukan shirathal mustaqim, jalan lurus, atau pun jalan Allah.

Ayat ini saya sebut sebagai ayat kunci, karena keberadaan jalan yang lurus untuk mendapatkan cinta kasih Allah itu merupakan tema besar isi Kitabullah Al Quran. Maka, dari sinilah kita akan memulai upaya bersama menemukan jalan lurus, dan yang dimaksud jalan lurus itu tentulah jalan Allah.

Kita mulai dengan lebih dahulu memahami hingga menemukan apa yang disebut sebagai jalan Allah terlebih dahulu supaya nanti kita dapat mengetahui, jalan-jalan yang selain jalan Allah, karena dalam QS 1 Al Fatihah ini ada disebutkan tiga jalan, yaitu jalan lurus, jalan orang yang terkutuk dan jalan orang yang tersesat. Namun, kita juga harus memastikan terlebih dahulu, bahwa yang dimaksud dengan jalan Allah ini, bukanlah jalan-jalan seperti yang kita lihat selalu ramai dilalui oleh manusia dengan kendaraannya. Karena jalan-jalan tersebut adalah produk buatan manusia, atau, hasil teknologi.
Banyak ayat yang berbicara tentang jalan Allah dalam Kitabullah Al Quran, tetapi nyaris tidak pernah dibicarakan, baik dari sisi tekstual maupun substansi hakikatnya. Sebagai akibatnya, banyak yang menganggap bahwa jalan Allah itu adalah agama. Bahkan ada yang secara eksplisit menyatakan, jalan Allah adalah agama Islam, sehingga kemudian muncul penafsiran bahwa orang kafir adalah mereka yang tidak beragama Islam. Padahal kenyataan yang ada menunjukkan bahwa pada agama lain pun ada sebutan orang kafir, sehingga bisa jadi pemeluk agama lain pun akan membuat klaim yang sama.
Kondisi dan situasi yang seperti ini, sangat tidak kondusif untuk menciptakan keserasian hidup yang penuh tenggang rasa. Maka, penting untuk mengetahui, apa itu jalan Allah. Di awali dengan memberikan pengertian jalan Allah sebagai jalan yang dibuat atau diciptakan oleh Allah.

Allah memberitahukan : dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk,(QS 16:15).

Mari kita perhatikan lebih dulu frasa (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan, yang mengarahkan kita untuk mengetahui bahwa yang dimaksud dengan jalan Allah adalah jalan yang dibuat atau diciptakan oleh Allah, bukan jalan yang dibuat oleh selain Allah, manusia misalnya. Karena nanti kita akan menemukan realitas dalam hidup keseharian, kita melihat ada jalan di depan rumah kita, ada jalan yang dilalui oleh pejalan kaki, kendaraan dan lain-lain. Semua jalan itu bukan dibuat atau diciptakan oleh Allah, melainkan karya manusia. Jadi, pasti bukan jalan itu yang dimaksud oleh Allah dengan jalan Allah.

Memang benar, sungai-sungai bisa juga disebut jalan, karena pada kenyataannya banyak manusia memanfaatkan sungai untuk jalur transportasi barang maupun manusia. Sungai itu dibuat oleh Allah, dan keberadaannya juga di bumi. Namun apakah itu berarti di sungai itu kita akan mendapat petunjuk Allah ?

Kalau begitu, apa dan di mana jalan Allah itu ? Kita perlu mengetahuinya karena Allah menyatakan bahwa jalan-jalan itu dibuat atau diciptakan agar kamu mendapat petunjuk. Hal ini bermakna bahwa petunjuk Allah berada di jalan Allah. Jadi mana mungkin kita akan memperoleh petunjuk kalau kita belum mengetahui jalan Allah. Setelah menemukan jalan Allajh, lalu menyusuri jalan itu untuk mengambil petunjuk Allah ?

Jalan Allah menjadi hal yang amat krusial dalam hidup kita.

Maka Allah menjelaskan lebih lanjut : yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. (QS 20:53). Sehingga kini semakin jelas apa yang dimaksud dengan jalan Allah yang telah Dia buat atau Dia jadikan di bumi itu.

Kita sudah melihat kenyataan bahwa jalan-jalan yang ada di bumi tempat tinggal kita, merupakan karya manusia. Artinya, jalan-jalan itu dibuat oleh manusia dengan teknologi yang dikuasainya sehingga kualitas jalannya pun makin bagus. Tetapi di sini (QS 20:53) Allah menyatakan, telah menjadikan di bumi itu jalan-jalan. Artinya, di bumi itu sudah ada jalan Allah. Lalu bagaimana ? Mengapa ayat Al Quran bertentangan dengan kenyataan yang ada ? Lalu bagaimana kita menyikapi situasi yang seperti ini ?

Di sinilah bukti letak perlunya kita memadukan pemahaman tersurat dalam ayat (syariat) dengan pemahaman tersirat (hakikat)nya. Atau mengetahui, yang kiasan dan yang dikiaskan. Inilah, menurut hemat saya, yang disebut sebagai tadabbur, yakni memadukan makna lahiriah dan batiniah ayat, memahami makna tersurat dengan makna yang tersirat. Walaupun demikian, layaklah kita sadari bahwa pemahaman-pemahaman itu bukan merupakan hasil akhir, karena akhir atau tujuan yang hendak kita capai dengan tadabbur ini adalah amaliah, atau, laku hidup yang sesuai dengan Kitabullah, lahirnya maupun batinnya.

Realitas yang ada tentang jalan Allah sudah kita ketahui, bukan jalan yang setiap hari kita lalui dari rumah kita menuju ke mana pun. Karena jalan-jalan tersebut dibuat oleh manusia, bukan oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam Kitabullah. Jadi, jalan-jalan yang kita lalui setiap hari tersebut adalah kiasan yang dipergunakan oleh Allah untuk menunjukkan adanya jalan sejati yang disebut jalan Allah. Sehingga, ungkapan telah menjadikan jalan di bumi itu, mengharuskan kita memahami, bahwa sebutan bumi itu adalah kiasan juga. Apa yang dikiaskan dengan bumi di sini ?

Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita harus mengembalikannya pada kesepakatan yang sudah diakui kebenarannya secara umum bahwa Tuhan menciptakan jagad besar (macrocosmos) dan jagad kecil (microcosmos). Jagad besar (macrocosmos) disepakati sebagai alam raya atau alam semesta, sedang jagad kecil (microcosmos) adalah manusia. Kesepakatan ini mengantar kita untuk juga menyepakati adanya bumi besar (macroearth) dan bumi kecil (microearth). Maka bumi besar adalah bumi yang ditempati bersama-sama oleh umat manusia, dan bumi kecil adalah jasad yang ditempati atau dihuni oleh roh manusia.

Dengan bekal ini, mari kita menengok jasad kita, setelah kita tahu bahwa di bumi besar yang kita huni bersama-sama ini tidak ditemukan jalan Allah, artinya di bumi kecil yang di huni oleh roh kita masing-masing inilah letaknya jalan Allah itu. Untuk mencari jawabannya, mari kita perhatikan firman Allah : dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS 51:20,21).

Dalam dua ayat itu, dan pada ayat-ayat lain, kata aayati diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan tanda-tanda, dan bisa juga dimaknai sebagai bukti-bukti atau tanda bukti tentang apa yang dikemukakan oleh Allah dalam firmanNya. Sehingga dalam dua ayat tersebut, tanda bukti ada pada bumi dan jasad manusia. Bumi adalah kiasan dan jasad manusia itu yang dikiaskan. Jika di bumi ada jalan – sebagaimana dinyatakan oleh Allah – maka pada jasad manusia juga terdapat jalan.

Jalan-jalan tersebut – di bumi maupun di jasad – dipergunakan oleh penghuninya untuk berlalulintas atau berlalulalang memenuhi hajatnya, berkomunikasi, saling berkunjung dan keperluan-kepelarluan lain. Penghuni bumi besar adalah kelompok manusia yang saling berhubungan satu sama lain dan penghuni bumi kecil adalah roh individual yang saling berhubungan dengan sesama mahluk rohaniah penghuni bumi kecil, secara eksplisit disebut dengan istilah jin, setan dan malaikat. Mereka inilah yang menempun jalan-jalan bumi kecil untuk memenuhi tugas hidupnya masing-masing. Di sinilah letaknya ajang pergulatan seru antarpenghuni jagad kecil, khususnya bagi roh insani yang diutus sebagai khalifah Allah di bumi kecilNya.

Untuk mempertegas hal ini, maka Allah menyatakan : dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS 51:56). Keduanya dibebani kewajiban untuk mengabdi dengan menyembah Tuhan, sehingga keduanya ditempatkan di bumi yang sama.

Keduanya, jin dan manusia, terus menerus berinteraksi yang hasilnya bisa positif dan bisa pula negatif. Maka Allah memerintahkan roh manusia – yang kemudian kita sebut insan – untuk berlindung diri kepadaNya : Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. raja manusia, sembahan manusia. (QS 114:1-3).
Perlindungan dari apa ? Yang dijawab sendiri oleh Allah : dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, (QS 114:4), yang mengindikasikan bahwa di dalam diri manusia juga ada pembisik-pembisik yang disebut dalam ayat ini sebagai setan yang menyelinap bersembunyi pada : yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, (QS 114:5). Terjemahan ini berpotensi meninggalkan kerancuan, karena disebut ke dalam dada manusia, sehingga seakan-akan, setan itu berada di luar manusia. Saya lebih cenderung memahaminya, yang membisikkan (kejahatan) di dalam dada manusia, karena setan pun sejatinya termasuk mahluk rohani yang menghuni bumi kecil manusia. Lagi pula, Nabi Muhammad saw menyatakan bahwa setan berjalan mengikuti aliran darah manusia, sehingga dapat dipahami, aliran darah itu adalah sungai-sungai yang diciptakan Tuhan, selain jalan-jalan.

Itulah sebabnya Allah memerintahkan manusia supaya berlindung kepadaNya karena serbuan godaan yang datang dari berbagai penjuru. Ibaratnya, roh manusia itu menghadapi tantangan dari luar dirinya, yakni bisikan-bisikan dari sesama mahluk rohani yang tidak senang kepada insan (roh) karena ia disebut sebagai roh yang paling sempurna di antara mahluk rohani lainnya.

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS 94:4)

Kondisi inilah yang menyebabkan mahluk rohani lain cemburu, kecuali Malaikat yang memang dikondisikan oleh Allah supaya menjadi pihak yang selalu mendampingi insan dalam menjalankan tugas kekhalifahannya. Bahkan mereka diutus untuk menjaga dan menguatkan tekad insan agar selalu siap fight menghadapi tantangan. (bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s