MEMAHAMI JALAN ALLAH-2


Allah menciptakan insan (manusia) sebagai mahluk yang paling mulia, sehingga menyebabkan mahluk rohani lainnya, terutama jin dan setan merasa cemburu. Akibatnya, pergulatan antara insan, jin dan setan di bumi kecil ciptaan Allah menjadi semakin sengit.

.Di bumi besar ada kelompok manusia dan ada kelompok jin, dan di bumi kecil ada individu manusia dan individu jin. Tetapi, individu manusia diiringi oleh dua orang pengiring.

Disebutkan dalam Kitabullah Al Quran : (yaitu) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir. (QS 50:17,18).

Ini juga hal yang menarik, bahwa penghuni jasad manusia bukanlah roh manusia semata. Ada juga kendaraan yang dipakai lalulalang oleh penghuninya. Kendaraan itu disebut tujuh nafsu yang mengerubuti insan dengan rasa malas, yang menyebabkan manusia tidak memiliki gairah untuk berpretasi, baik dalam kaitannya dengan masalah ubudiah maupun dalam masalah muamalah. Ada juga nafsu yang menimbulkan rasa takut yang menyebabkan manusia menjadi kikir karena takut miskin, pengecut karena takut ditimpa rasa sakit, dll. Namun ada juga nafsu yang menimbulkan kemarahan yang menyebabkan manusia menjadi beringas, sombong, takabur, tidak mau menerima kebenaran yang datang dari orang lain dll. Dan nafsu lainnya yang menerbitkan rasa benci yang melahirkan sifat licik, hasat, dengki dll. Tetapi ada juga nafsu yang menerbitkan rasa welas asih, keinginan untuk membantu sesama, dermawan dll.

Keberadaan nafsu itu menyebabkan corak kejiwaan setiap individu berbeda satu sama lain, tergantung pada nafsu yang paling dominan dalam dirinya.

Maka, permintaan supaya ditunjukkan kepada jalan yang lurus yaitu jalan Allah, diikuti dengan penjelasan : (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS 1:7).

Sehingga dengan demikian, manusia dihadapkan pada tiga alternatif jalan untuk menentukan jalan mana yang dibutuhkannya. Tiga alternatif itu adalah : pertama, jalan orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, kemudian jalan mereka yang dimurkai dan jalan mereka yang sesat. Pembaca surat Al Fatihah sudah tahu tentang informasi mengenai jalan-jalan itu. Namun ini baru sebatas informasi belaka, bahwa ada jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang mendapat nikmat, yang mendapat murka dan yang tersesat. Belum tahu, di mana letak jalannya dan bagaimana cara menempuhnya.

Sebelum membicarakannya lebih lanjut, marilah lebih dahulu kita membuat istilah tentang jalan itu menjadi lebih sederhana, yaitu : jalan orang yang telah mendapat nikmat dari Allah, kita sebut jalan Allah; kemudian jalan orang yang terkutuk kita sebut jalan setan karena ia memang mahluk yang dikutuk, lalu jalan orang yang tersesat adalah jalan jin karena jin adalah mahluk yang dibebani kewajiban ibadah seperti manusia tetapi dia memilih jalan selain jalan yang sudah disediakan Tuhan untuk mereka; atau dapat juga disebut sebagai jalannya orang yang belum tahu jalan sehingga dia tersesat.

Dengan penyederhanaan ini, mari kita memahami jalan-jalan tersebut.

Yang pertama, jalan Allah, yakni jalan yang disediakan untuk orang-orang yang mencari jalan itu karena ingin mendapatkan petunjuk dari Allah sehingga hidupnya penuh dengan nikmat. Disebutkan dalam Kitabullah Al Quran : Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Para Nabi, Para shiddiiqiin, Para syuhada, dan para salihin. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS 4:69).

Itulah empat golongan manusia – para Nabi, para Shiddiqiin, para syuhada dan para salihin – yang telah mendapat anugerah, karena ketaatannya kepada Allah dan RasulNya. Mereka juga disebut sebagai teman yang sebaik-baiknya. Artinya, tidak ada teman yang lebih baik selain mereka berempat.

Persoalannya bagi kita adalah, bagaimana caranya, atau metode apa yang mereka tempuh, sehingga mereka mendapat anugerah nikmat dari Allah dan disebut sebagai teman terbaik manusia ? Menurut hemat saya, pertanyaan ini sangat penting, karena kita tidak sekedar ingin mengetahui maqom mereka, namun kita pun ingin menjadi bagian dari empat golongan manusia itu. Itulah sebabnya, kata tanya yang dipergunakan di sini adalah bagaimana supaya kita mendapatkan jawaban yang berupa cara mengerjakannya yang diberikan lewat teladan atau contoh, bukan uraian kata-kata.

Golongan pertama adalah para Nabi, yang sangat layak disebut sebagai golongan perintis dan penemu jalan Allah, karena mereka adalah para pencari ulung yang sangat ulet, tabah, pantang menyerah dan gagah berani.

Lihatlah Adam, Bapak umat manusia dan Nabi pertama, yang telah dikaruniai kenyamanan hidup surgawi oleh Allah : Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. (QS 2:35).

Bukankah ini fasilitas yang luarbiasa, Adam dan isterinya diberi hak mutlak untuk mendiami surga dan menikmati apa pun yang ada di dalamnya tanpa batas, kecuali satu larangan yaitu, janganlah kamu dekati pohon itu. Kita tidak akan membicarakan pohon itu, karena kita sudah tahu pohon itu hanya kiasan. Kita akan berusaha menemukan substansi pohon itu atau sesuatu yang dikiaskan dengan pohon itu. Jauh lebih bermanfaat bagi kita untuk mengetahui cara bagaimana Adam menyikapi fasilitas Tuhan dengan keberanian mengambil resiko atas pilihannya.

Sebenarnya, keberanian Adam mengambil resiko itu karena ada tiga faktor stimulan yaitu adanya larangan, bisikan iblis (setan) dan ketertarikan pasangannya (Hawa) terhadap pohon itu. Larangan (dan perintah) itu sejatinya merupakan sumbu motivasi atau niat sehingga seseorang tidak melakukan (atau melakukan) tindakan. Bisikan Iblis (dan peringatan Malaikat) adalah pemantik api (cahaya) yang menyebabkan sumbu motivasi itu menyala. Sedangkan ketertarikan Hawa sebagai pasangan Adam yang berada dalam satu ikatan (rumpun) merupakan interaksi, tarik menarik antara dua kubu – lelaki dan perempuan – yang kemudian melahirkan keputusan untuk menindaklanjutinya. Dan keputusan berani Adam untuk “melanggar” larangan itu berbuah resiko keduanya harus ikhlas meninggalkan tempat yang penuh fasilitas kenyamanan. Adam meninggalkan zona nyaman untuk berada di zona penuh ancaman sehingga dia dan anak keturunannya harus berjuang sangat keras untuk kembali ke tempat asal sejati dirinya, yaitu Tuhan.

Dengan perspektif seperti ini, kita dapat meletakkan “pengusiran” Adam dari surga secara positif, bahwa Adam dan anak keturunannya memang sejak awal di takdirkan untuk menjadi penghuni bumi lebih dulu sebelum kembali ke surga bersama Tuhan. Bukan karena dosa. Atau kalau toh itu disebut dosa, maka perbuatan Adam “melanggar” larangan Tuhan itu juga buah rekayasa Tuhan dengan menjadikan pembisik-pembisik yang bernama iblis (setan) dan pasangan hidup (Hawa) yang rentan rayuan tetapi sangat piawai merayu Adam hingga akhirnya dia memenuhinya.

Turunnya Adam dan pasangannya (Hawa) ke bumi itu menyiratkan bahwa apa saja yang sudah tercatat dalam catatan takdir Tuhan itu pasti akan terjadi. Hanya tinggal menunggu momentum yang tepat. Dan momentum yang tepat bagi Adam dan pasangannya adalah ketika mereka mendekati – dalam pengertian – memakan/menikmati buah itu, yang merupakan larangan Tuhan. Apakah ini bermakna bahwa setiap larangan Tuhan itu adalah pintu masuk berlakunya takdir Tuhan ? Ini perlu kajian lebih mendalam.

Sekarang fokus kita arahkan pada bagaimana garis qodla dan qodar Allah itu berjalan atas mahlukNya yang bernama manusia melalui cikal bakal manusia yaitu Adam dan pasangannya. Apa yang terjadi dengan mereka setelah keluar dari surga ? Bagaimana rekayasa Tuhan selanjutnya yang menjadi pembelajaran bagi manusia sesudah Adam ? Lalu bagaimana Adam menemukan jalan kembali ke surga untuk kemudian bersatu lagi dengan Tuhan yang telah menciptakannya.? (bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s