Al-Ahwal


Syekh Abu Nashr As-Sarraj -rahimahullah- berkata : Adapun makna ahwal (bentuk jamak dari hal) ialah sesuatu dari kerjenihan dzikir yang bertempat dalam hati, atau hati berada dalam kejernihan dzikir tersebut.

Diceritakan dari al-Junaid -rahimahullah- yang mengatakan bahwa hal ialah sesuatu yang terjadi secara mendadak yang bertempat pada hati nurani dan tidak bisa lama (terus menerus).

Disebutkah pula bahwa hal ialah dzikir secara samar (khafi)

Diriwayatkan dari Rasulullah saw, bahwa beliau pernah bersabda “Sebaik-baik dzikir ialah dzikir khafi (dilakukan secara samar)” (H.r.Ahmad, Ibnu Hibban, Abu Uwanah dan al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqqash r.a.)

Hal tidak bisa diperoleh lewat perjuangan spiritual, ibadah, pelatihan spiritual sebagaimana yang biasa dilakukan dalam maqamat yang telah kami sebutkan. Akan tetapi hal adalah seperti muraqabah, qurbah, mahabbah, khauf, raja’, syauq, uns, thuma’ninah, musyahadah, yaqin dan lain-lain.

Diceritakan dari Abu Sulaiman ad-Darani -rahimahullah- yang mengatakan, “jika muamalah dengan Allah telah menembus hati, maka anggota tubuh akan terasa nyaman dan ringan”

Apa yang dikatakan Abu Sulaiman ini mengandung dua pengertian. Pertama, yang dimaksud dengan terasa ringan adalah ringan dari kegiatan-kegiatanb perjuangan spiritual (mujahadah), apabila ia disibukkan dengan menjaga hatinya dan melindungi rahasia hatinya dari segala bersitan-bersitan dan pikiran-pikiran jelek yang hanya akan menyibukkan hatinya sehingga lupa mengingat Allah. Kedua, mungkin juga apa yang dimaksud dari ungkapan tersebut adalah memungkinkan untuk terus ber-mujahadah, melakukan amal-amal saleh dan ibadah-ibadah yang lain, dimana semuanya telah menjadi kebiasaannya, sehingga bisa merasakan kelezatan, menemukan manisnya dan hilang rasa capek dan letih yang pernah dirasakan sebelumnya.

Sebagaimana sebagian kaum Sufi yang lain mengatakan -dan saya kira si Sufi itu tidaklain adalah Muhammad bin Wasi’- “Saya berjuang dengan penuh kesulitan untuk menghidupkan malamku selama duapuluh tahun, dan saya bisa merasakan nikmatnya selama duapuluh tahun pula.”

Sementara yang lain juga mengatakan -saya kira dia adalah Malik bin Dinar-, “Lidah saya berkomat-kamit membaca al-Quran selama duapuluh tahun, dan saya bisa merasakan nikmatnya membaca al-Quran selama duapuluh tahun pula.

Al-Junaid berkata, “Seseorang tak akan bisa diantarkan sampai pada memelihara hak-hak Allah kecuali dengan menjaga rahasia hati. Barangsiapa tidak memiliki rahasia hati (sirr) maka ia adalah orang yang selalu berbuat dosa. Sementara orang yang selalu berbuat dosa tak akan pernah ada kebaikan yang bisa jernih”.

Sementara itu, jawaban-jawaban kaum Sufi tentang al-Maqamat dan al-Ahwal cukup banyak.Dan apa yang saya sebutkan di sini cukup ringkas. Semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kita.

(dipetik dari Al-Luma, karya Abu Nashr as-Sarraj).

2 responses to “Al-Ahwal

  1. Dlm pembicaraan mengenai ahwal dan maqamat para ahli tarekat sepakat bahwa tdk seyogyanya utk dibicarakan bagi org yg belum sampai (murid pemula) dikalangan tasawuf yg belum mencapai ahwal dan maqamat tersebut. adakalanya pembicaraan dan pertanyaan mengenai hal itu akan menyebabkannya masuk kedalam kepura2an, membanggakan diri, memaksakan diri diluar kemmpuan, pamer dan hal2 serupa itu yg memerosotkan si salik jauh dr batas perjalanannya atau mngkin mengacaukannya..wallahualam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s